Lintasi Laut Sulu yang Rawan Pembajakan, KRI Bima Suci Gelar Peran Jaga Perang!

Jakarta, IDM – Prajurit KRI Bima Suci bersama tim Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmada II memperketat penjagaan di rute internasional. Mereka menggelar peran jaga perang selama dua hari penuh saat melintasi perairan Filipina dan Laut Sulu yang terkenal rawan.
Aksi siaga tempur ini untuk mengantisipasi potensi ancaman pembajakan maupun perompakan kapal. Wilayah perairan tersebut memang memiliki catatan tingkat kriminalitas yang tinggi di laut.
Prajurit kapal layar tiang tinggi ini bergerak dengan mengacu pada Buku Induk Tempur (BIT) KRI Bima Suci serta Peraturan Dinas Dalam (PDD) khas TNI AL. Aturan ini mewajibkan seluruh personel bersiap di posisi tempur masing-masing demi menghadapi situasi darurat.
Baca Juga: Aksi Kilat Prajurit TNI Selesaikan Misi PBB Tuai Pujian Internasional
Pengamanan rute pelayaran etape ke-11 menuju Bitung, Sulawesi Utara ini berjalan dengan membagi pasukan ke dalam dua divisi jaga, yaitu divisi lambung kanan dan divisi lambung kiri. Kedua tim saling berganti giliran melakukan pengawasan ketat setiap enam jam sekali.
Pola rotasi berkala tersebut menjaga kebugaran stamina prajurit. Langkah ini krusial untuk mendeteksi bahaya secara dini di sepanjang koridor Laut Sulu agar pengawasan tidak kendor.

Panglima Koarmada II Laksda I Gung Putu Alit Jaya menegaskan kesiapan operasional kapal perang tidak boleh berkompromi saat melintasi perairan internasional. Peningkatan kewaspadaan ini merespons dinamika situasi keamanan maritim global yang fluktuatif.
"Setiap unsur KRI wajib senantiasa meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi perkembangan situasi selama melintasi perairan internasional," jelas Alit Jaya, dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, Rabu (8/7).
Baca Juga: Latihan Kesiagaan II “Wijaya Sakti”, Koharmatau Perkuat Dukungan Operasi Udara
Pelayaran di Laut Sulu ini terjadi setelah KRI Bima Suci menyelesaikan misi diplomasi maritim di Manila, Filipina, pada Minggu (5/7). Ibu kota Filipina tersebut menjadi persinggahan kesepuluh setelah kapal latih ini sukses mengarungi kawasan Asia Timur dan Eropa Timur, mulai dari Vladivostok (Rusia), Shanghai (Cina), Busan (Korea Selatan), hingga Nagasaki (Jepang).

Berbeda dengan etape sebelumnya, kapal bernomor lambung 945 ini bertolak menuju Indonesia tanpa mengangkut taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-73. Para calon perwira yang tergabung dalam satuan latihan Kartika Jala Krida (KJK) 2026 tersebut sudah mengakhiri masa praktik dan kembali ke tanah air lewat jalur udara pada 3 Juli 2026.
Komandan KRI Bima Suci Letkol Laut (P) Sugeng Hariyanto kini memperketat pengawasan radar dan pengamatan visual hingga kapal masuk ke wilayah laut Indonesia. Kesiapan komando taktis ini untuk membentengi seluruh personel dan material kapal dari potensi ancaman di laut lepas.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































