Lawatan ke Australia, KSAL Kunjungi Maritime Border Command

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali bersama KSAL Angkatan Laut Australia Laksamana Madya Mark Hammond, mengunjungi Maritime Border Command atau Komando Perbatasan Maritim Australia, Kamis (31/8).
Dikutip dari keterangan Dispenal, Kamis (7/9), Ali bersama Mark juga mendiskusikan beberapa topik pembicaraan kerja sama yang terjalin sejak lama antarkedua angkatan laut ini.
Salah satu bentuk kerja sama dan hubungan diplomasi yang terjalin antara TNI AL dan Angkatan Laut Australia, di perairan Indonesia telah dilaksanakan latihan passing exercise KRI Sultan Hasanuddin-366 dan KRI Alugoro-405 terhadap kapal selam HMAS Waller-75.
HMAS Waller-75 merupakan kapal selam kelas Collins yang dibangun Australian Submarine Corporation, diluncurkan pada 1997 dan memperkuat Angkatan Laut Australia pada 1999.
Baca Juga: Aksi Operasi Serangan Blufor Prajurit Yonif Raider 515 Kostrad di SGS 2023
Kapal selam yang bermarkas di Fleet Base West, Perth, ini setelah melaksanakan latihan juga berkesempatan memberikan penghormatan dengan melaksanakan tabur bunga di lokasi tenggelamnya KRI Nanggala di utara pulau Bali. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































