Laris Manis, Filipina Borong Lagi Kapal Perang Buatan RI!

Jakarta, IDM – PT PAL Indonesia meluncurkan Future Landing Dock (LD)-603 di Surabaya. Kapal perang jenis pengangkut pendarat ini merupakan unit pertama dari dua kapal pesanan Angkatan Laut Filipina.
Proyek ekspor alutsista ini memperpanjang kontrak kerja sama pengadaan kapal antara pemerintah Filipina dan galangan kapal pelat merah tersebut yang telah berjalan selama sepuluh tahun terakhir.
Galangan kapal asal Surabaya ini menyelesaikan konstruksi lambung kapal sepanjang 124 meter ini dalam kurun waktu enam bulan. Dalam proses produksinya, PT PAL menerapkan teknologi maritim industri 4.0 yang mendigitalisasi pemantauan kualitas dan alur kerja.
Baca Juga: Empat Alasan KSAD Maruli Raih Gelar Kehormatan Lemhannas
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menjelaskan percepatan waktu pengerjaan ini tetap mengikuti standar kualitas yang diminta oleh pihak pemesan. Manajemen melakukan penyesuaian internal untuk menekan dampak keterlambatan akibat gangguan rantai pasok material dari luar negeri.
"Malam ini, kapal ini untuk pertama kalinya menyentuh air, menandai peluncuran Landing Dock-603 sebagai unit pertama dari dua kapal yang sedang kami bangun untuk Angkatan Laut Filipina. Kami berkomitmen menjaga kepercayaan pelanggan dengan menghadirkan produk berkualitas tinggi. Terlepas dari tantangan geopolitik global yang sempat memengaruhi rantai pasok dan menyebabkan beberapa penyesuaian jadwal, PT PAL mampu menjaga kinerja internal secara optimal sehingga dampak terhadap penyelesaian proyek dapat diminimalkan," kata Djenod, di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/6).
Sebelum proyek LD-603 ini, Angkatan Laut Filipina telah mengoperasikan dua unit srategic sealift vessel (SSV) atau kapal angkut strategis, serta beberapa kapal pendarat logistik buatan PT PAL. Pihak Filipina juga mempercayakan perawatan kapal perang mereka di galangan Surabaya tersebut.
Baca Juga: Bahas Stabilitas Kawasan, Dirjen Strahan Kumpulkan Athan Negara Sahabat

Pertemuan Bilateral Militer di Jakarta
Sebelum pelaksanaan peluncuran kapal di Surabaya, pimpinan angkatan laut kedua negara terlebih dahulu menggelar pertemuan di Jakarta.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul memaparkan, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menerima kunjungan kehormatan KSAL Filipina Laksdya Jose Ma Ambrosio Quiatchon, di Markas Besar TNI AL (Mabesal), Cilangkap, Jakarta, Senin (29/6).
"Kunjungan kehormatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral dan kerja sama antara TNI AL dan Angkatan Laut Filipina. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat ini menjadi momentum untuk membahas berbagai peningkatan kerja sama kedua angkatan laut," ujar Tunggul, dikutip dari keterangan Dispenal, Rabu (1/7).
Baca Juga: Kronologi TNI AL Tangkap Kapal Pengangkut 3,88 Ton Pasir Timah Ilegal di Babel
Tunggul menjabarkan, kehadiran KSAL Filipina ke Indonesia bertujuan meningkatkan profesionalisme militer kedua belah pihak serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah perairan regional.
Setelah proses peluncuran ini, kapal perang tersebut akan menjalani serangkaian uji coba teknis di pelabuhan serta uji coba pelayaran di laut lepas (harbour acceptance test) dan (sea acceptance test). PT PAL menargetkan penyerahan penuh kapal angkut pendarat ini kepada Angkatan Laut Filipina pada 2026.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































