HANKAM

Lanudal Kupang Sulap Limbah Plastik jadi BBM, Intip Cara Kerjanya

Danlanudal Kupang, Letkol Laut (P) Erich Yuliontirta Wibawa
Danlanudal Kupang, Letkol Laut (P) Erich Yuliontirta Wibawa, memaparkan konsep ketahanan energi ini dalam forum diskusi bersama jajaran PLN UPT Kupang, NTT, Rabu (4/3). (Foto: Dok. Dispen Puspenerbal)

Jakarta, IDM – Komandan Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Kupang, Letkol Laut (P) Erich Yuliontirta Wibawa, menciptakan terobosan gahar untuk warga Nusa Tenggara Timur (NTT). Erich merancang sebuah alat bernama Thermal Converter yang sanggup menyulap tumpukan limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif sekelas BBM.

Erich memaparkan konsep ketahanan energi ini dalam forum diskusi bersama jajaran PLN UPT Kupang, Rabu (4/3). Di depan puluhan peserta, ia menunjukkan sampah plastik yang selama ini merusak lingkungan justru bisa menjadi solusi kebutuhan dapur dan kendaraan warga.

“Kami menghadirkan inovasi ini karena melihat tingginya ketergantungan warga terhadap bahan bakar minyak, sementara produksi sampah di Kupang mencapai 400 ton per hari dan sebagian besar adalah plastik,” ujar Erich, dikutip dari keterangan Dispen Puspenerbal, Jumat (6/3).

Baca Juga: Sambut Alutsista Baru, TNI AL Perkuat Infrastuktur Pangkalan dan Suku Cadang

Erich menerangkan cara kerja alat ini menggunakan teknologi pirolisis. Pirolisis merupakan metode memanaskan sampah plastik di dalam ruang tertutup tanpa udara atau oksigen. Proses kimia ini akan mengubah plastik padat menjadi uap, yang kemudian mengembun menjadi cairan bahan bakar.

Menariknya, Erich dan tim merakit alat ini secara mandiri menggunakan material bekas yang mudah mereka temukan di lapangan. Langkah ini bertujuan menekan biaya produksi agar alat tersebut nantinya mudah masyarakat aplikasikan.

Perjalanan Erich menciptakan alat ini pun tidak instan. Ia harus melewati tahap trial and error atau serangkaian uji coba dan kegagalan berulang kali. Kini, alat tersebut sudah memasuki versi keempat yang memiliki kinerja jauh lebih stabil dan optimal.

“Alat ini murni untuk membantu masyarakat dan tidak bertujuan komersial atau cari untung. Kami ingin warga, terutama di wilayah pelosok yang masih memakai minyak tanah, bisa mandiri secara energi,” tegas Erich.

Baca Juga: Satgas Gulbencal Kodam I BB Pulihkan Fasilitas Pendidikan Pascabanjir Susulan

Inisiatif Erich ini menjadi bagian dari penguatan ekonomi sirkular di NTT. Istilah ekonomi sirkular merujuk pada sistem ekonomi yang mengutamakan pemanfaatan kembali limbah agar terus berputar menjadi barang berguna, sehingga meminimalkan sampah buangan.

“Pimpinan TNI AL meminta seluruh jajaran terus adaptif dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional di wilayah tugas masing-masing,” ungkapnya.

Erich meyakini, keterbatasan di lapangan bukan menjadi penghalang, melainkan pemicu lahirnya inovasi berharga. Melalui kolaborasi dan komitmen bersama, ia optimis pemanfaatan limbah plastik mampu memperkuat ketahanan energi daerah di masa depan. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.