KSAU Sematkan Tanda Kehormatan Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama kepada CAF RAAF

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono menyematkan Tanda Kehormatan Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama kepada Chief of Air Force (CAF) Royal Australian Air Force (RAAF), Air Marshal Robert Timothy Chipman.
Penganugerahan tersebut dilakukan bersamaan dengan kunjungan kehormatan CAF RAAF ke Mabesau, Cilangkap, Jakarta, Jumat (21/6).
Baca Juga: Pangdam Mulawarman: Tangkap dan Perlakuan OPM Sesuai Prosedur Hukum
Bintang Swa Bhuwana Paksa merupakan tanda kehormatan tertinggi yang diberikan oleh pemerintah Indonesia dan dianugerahkan kepada individu yang berjasa besar bagi kemajuan TNI Angkatan Udara (TNI AU).

"Penghargaan tertinggi ini diberikan sebagai wujud apresiasi dan dedikasi dalam memajukan kerja sama antara angkatan udara Indonesia serta Australia," tulis keterangan resmi TNI AU.
Baca Juga: Yonif 6 Marinir Gelar Patroli Gabungan Jaga Keamanan di Yahukimo
Usai pemberian penghargaan ini, hubungan kerja sama di antara angkatan udara kedua negara dapat semakin erat serta berkontribusi positif bagi kemajuan TNI AU dan RAAF. (yas)
Hankam

Panglima TNI Buka Suara soal Pengerahan Pasukan Besar-besaran ke Jakarta
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan bahwa pengerahan dan pergerakan personel TNI ke Jakarta merupakan bagian dari prosedur kesiapsiagaan untuk menjaga kedaulatan negara dan mengantisipasi potensi ancaman.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































