HANKAM

KSAL Ungkap Dunia Masuk Era G-Zero, Tantangan Baru bagi Diplomasi Laut TNI AL

KSAL Laksamana Muhammad Ali
KSAL Laksamana Muhammad Ali saat memberikan pembekalan kepada 123 perwira siswa pendidikan reguler Seskoal angkatan ke-64 di Cipulir, Jakarta, Rabu (12/11). (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – Perkembangan situasi global yang cepat berubah menuntut TNI AL tak hanya tangguh di laut, tapi juga piawai berdiplomasi. Di tengah dinamika itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menyoroti tantangan baru yang dihadapi kekuatan maritim Indonesia di panggung dunia.

Ali menyampaikan hal itu saat memberikan pembekalan bertema “Diplomasi Angkatan Laut sebagai Instrumen Strategis Sistem Pertahanan Negara” kepada 123 perwira siswa pendidikan reguler Seskoal angkatan ke-64 di Bumi Cipulir, Jakarta, Rabu (12/11).

Dalam arahannya, Ali menekankan pentingnya memahami dinamika lingkungan strategis global yang kini berkarakter VUCA, yakni volatile, uncertain, complex, dan ambiguous. Ia menjelaskan, dunia tengah bergerak menuju fase multipolaritas dan fenomena yang para ahli sebut G-Zero, yaitu kondisi ketika tak ada satu kekuatan besar yang benar-benar memimpin tatanan global.

Baca Juga: Kolaborasi Pussenif dengan Cucu Panglima Besar, Bangun Monumen Jenderal Sudirman

“Dunia kini berada di era G-Zero, ketika distribusi kekuatan ekonomi dan politik terpecah di antara beberapa negara besar. Tidak ada lagi dominasi satu sistem politik global, sehingga muncul kekosongan kepemimpinan dunia,” ujar Ali, dikutip dari keterangan Dispenal, Kamis (13/11).

Menurutnya, dalam situasi seperti ini, diplomasi angkatan laut menjadi alat penting untuk mendukung kebijakan luar negeri pemerintah. Diplomasi ini dijalankan untuk memengaruhi kebijakan negara lain, baik di masa damai, konflik, maupun perang.

“Implementasi paling penting dari naval diplomacy adalah kehadiran kekuatan laut di titik strategis. Kehadiran itu sendiri menunjukkan eksistensi militer dan memiliki tiga fungsi utama: coercion, coalition building, dan picture building,” jelasnya.

Ali juga menyinggung Empat Pilar Pembangunan Nasional, mulai dari pembangunan manusia dan penguasaan iptek, ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, hingga pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan. Ia menegaskan, diplomasi pertahanan harus selaras dengan semangat politik luar negeri bebas aktif dan penguatan sistem hukum serta keamanan nasional.

Baca Juga: 25 Personel TNI AD Dikirim ke Singapura Ikut Lomba AARM, Ada Prajurit Perempuan

Lebih lanjut, Ali menilai diplomasi laut dihadapkan pada tantangan dan peluang di tengah rivalitas kekuatan besar yang terus berubah. Meski begitu, TNI AL memiliki ruang besar untuk tampil sebagai penghubung perdamaian, memperkuat sinergi lintas sektor, memanfaatkan dukungan pemerintah, serta mengoptimalkan kemampuan industri pertahanan nasional.

Menutup pembekalannya, Ali menekankan pentingnya kepemimpinan dan karakter dalam menjalankan diplomasi pertahanan.

“Diplomasi tanpa moral dan karakter hanyalah taktik tanpa jiwa. Untuk itu, dibutuhkan tiga hal, integritas sebagai prajurit Jalasena yang profesional dan bermoral, kemampuan berpikir kritis dan adaptif, serta kepemimpinan yang low profile tapi high impact, mampu memimpin dengan keteladanan nyata di tengah keberagaman anak buah dan tantangan di lapangan,” tegasnya. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.