HANKAM

KSAL Tekankan Strategi khas Indonesia: Peperangan Kepulauan dan Gerilya Laut

KSAL Muhammad Ali
KSAL Muhammad Ali memberikan pengarahan kepada jajaran perwira TNI AL mengenai dinamika lingkungan strategis di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5). (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menginstruksikan seluruh jajaran perwira untuk memperkuat strategi pertahanan maritim berbasis karakteristik geografis tanah air. Ali menegaskan, kombinasi peperangan kepulauan dan gerilya laut menjadi kunci utama dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Instruksi tersebut disampaikan langsung saat memberikan pengarahan kepada para perwira TNI AL di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5). Agenda ini turut diikuti secara daring oleh jajaran perwira di berbagai satuan wilayah melalui fasilitas video conference.

Kekuatan Strategis Negara Kepulauan

Ali menyoroti posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang harus dioptimalkan menjadi kekuatan strategis. Menurutnya, TNI AL wajib menguasai pengendalian laut dengan memanfaatkan bentang alam nusantara.

Baca Juga: Kunjungi Pos Perbatasan RI-PNG, Pangkogabwilhan III Tinjau Kondisi Prajurit dan Perkembangan Pengamanan

"Kita harus memperkuat konsep peperangan kepulauan dan gerilya laut yang menjadi ciri khas strategi pertahanan maritim nasional Indonesia. Karakteristik geografis kita adalah kekuatan nyata untuk mendukung pengendalian laut sekaligus menjaga kedaulatan negara," ujar Ali, dikutip dari keterangan Dispenal.

Adaptasi Operasi Multi Domain dan AI

Selain strategi tradisional, Ali menekankan pentingnya adaptasi terhadap teknologi peperangan modern. TNI AL kini membidik penguasaan multi domain operation atau operasi multi domain, yakni koordinasi tempur yang terintegrasi di berbagai medan, baik darat, laut, udara, maupun siber.

Pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) juga menjadi poin krusial dalam memperkuat pertahanan maritim nasional. KSAL berharap prajurit mampu berinovasi dan tangguh menghadapi dinamika lingkungan strategis yang terus berganti.

Baca Juga: TNI AD Gelar Seminar Nasional Bahas Isu Strategis dari Yon TP hingga Manfaat AI

Pembinaan Personel dan Penegakan Hukum

Penguatan kemampuan tempur ini harus berjalan beriringan dengan pembinaan personel yang berkelanjutan. Ali mengingatkan, profesionalisme dan kepemimpinan berbasis keteladanan adalah faktor penentu dalam membangun kekuatan angkatan laut yang adaptif.

Dalam kesempatan tersebut, Ali juga membekali para perwira dengan buku panduan penegakan hukum dan kedaulatan. Buku ini memuat rules of engagement atau aturan pelibatan, yaitu pedoman resmi yang mengatur batasan dan tata cara penggunaan kekuatan militer dalam operasi keamanan laut.

"Seluruh prajurit TNI AL harus terus bergerak maju dan berinovasi. Jaga kedaulatan negara dengan semangat pengabdian serta soliditas yang kuat demi kejayaan bangsa Indonesia," pungkas Ali. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.