KSAL dan Pimpinan Angkatan Laut Belanda Sepakati Tiga Hal Penting Ini

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali dan Chief of the Royal Netherland Navy VADM Rene Tas, menyepakati tiga hal penting dalam pertemuan bilateral di Belanda, Senin (26/6).
Kedua pimpinan angkatan laut itu menyepakati peningkatan kerja sama di bidang latihan dan pendidikan serta rincian dan mekanisme bentuk latihan yang nantinya didiskusikan oleh TNI AL dan Royal Netherland Navy melalui sarana Navy to Navy Talk.
Baca Juga: 21 KRI Dikerahkan dalam Latihan Armada Jaya 2023, Ini Jenisnya
Pada kesempatan tersebut, Tas juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran KRI Bima Suci pada event 'Sail Den Helder' 2023.
"Kehadiran KRI Bima Suci semakin menunjukan komitmen TNI AL sebagai angkatan laut berkelas dunia dan juga mitra strategis Royal Netherland Navy," ujar Tas dikutip dari keterangan Dispenal, Rabu (28/6).
Baca Juga: Rudal Exocet MM40 Block 3 Akan Ditembakkan di Armada Jaya 2023
Sebelumnya, dalam lawatan ke luar negeri kali ini, Ali beserta sejumlah pejabat tinggi Mabesal juga bertemu dengan pemimpin angkatan laut negara-negara eropa, di antaranya Turki dan Prancis, untuk membicarakan kerja sama bidang petahanan laut. (at)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































