HANKAM

KSAL Berencana Panjangkan Rute Pelayaran Kartika Jala Krida Sampai Ke Luar Asia Tenggara

Kartika Jala Krida
Perwira di KRI Bima Suci untuk Kartika Jala Krida 2025. (Foto: Dok. Instagram KRI Bima Suci)

Jakarta, IDM – Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali berencana memanjangkan rute pelayaran muhibah dan diplomasi Kartika Jala Krida (KJK) 2025 sampai ke luar Asia Tenggara.

Ali menyampaikan, sejauh ini, negara-negara yang dikunjungi pelayaran baru ASEAN. Tidak menutup kemungkinan pelayaran akan diperpanjang hingga ke luar wilayah Asia Tenggara.

“Mungkin hanya negara di kawasan ASEAN saja untuk kali ini. Tapi nanti berikutnya kita pikirkan untuk yang lebih jauh. Tapi juga ada yang sampai dengan Australia,” kata Ali usai membuka Kasal Cup di Ancol, Jakarta, Sabtu (28/6).

Baca Juga: Amerika Kenalkan Teknologi EMATT, Penerbang TNI AL Akan Berlatih Peperangan Antikapal Selam Lebih Realistis

Untuk KJK tahun ini, TNI AL untuk pertama kalinya mengirimkan dua Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), yakni KRI Bima Suci dan kapal landing platform dock (LPD).

“(KRI) Bima Suci dan LPD-nya KRI Semarang mungkin. Pokoknya salah satu LPD akan disiapkan,” tutur KSAL.

Rencananya, KRI Semarang akan berlayar selama 35 hari, yakni pada 11 Agustus-15 September dengan rute Surabaya (Jawa Timur)–Lombok (Nusa Tenggara Barat)–Timor Leste–Bitung (Sulawesi Utara)–Brunei Darussalam.

Sementara itu, KRI Bima Suci berlayar lebih lama, yakni 60 hari terhitung dari 1 Agustus-30 September melalui rute Surabaya (Jawa Timur)–Jakarta–Padang (Sumatra Barat)–Penang (Malaysia)–Sattahip (Thailand)–Brunei Darussalam-Tarakan (Kalimantan Utara)–Makassar (Sulawesi Selatan).

Baca Juga: Pamen TNI AU Berhasil Lulus dari Lembaga Pendidikan Militer Prancis

Jumlah taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) yang ikut pelayaran di KRI Semarang sebanyak 107 orang, dan KRI Bima Suci 97 orang beserta 50 kadet ASEAN dari 18 negara.

Selama pelayaran Kartika Jala Krida, para taruna AAL nantinya mempelajari navigasi astronomi di atas kapal, kebahariaan, hingga pengenalan tradisi TNI AL.

“Jadi mereka harus mempraktikkan pelayaran astronomi dengan bintang. Kemudian juga bagaimana menggunakan layar dan harus tahu dengan navigasi modern. Peralatan radar, GPS, kemudian alat navigasi lainnya,” kata KSAL. (nma)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.