KRI Diponegoro Terima Penghargaan dari Wakil Komandan Pertahanan UNIFIL

Jakarta, IDM – KRI Diponegoro-365 (KRI DPN-365) mendapat 'Letter of Appreciation' dari Deputy Force Commander (DFC) UNIFIL, Major General Chok Bahadur Dhakal, Rabu (19/6).
Mengutip keterangan Dispenal pada Kamis (20/6), penghargaan itu diterima KRI DPN-365 lantaran dinilai berdedikasi melaksanakan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjaga perdamaian di Lebanon.
Baca Juga: Taifib Latih Kemampuan Infiltrasi Bawah Air dengan Selam Tempur
Komandan KRI DPN-365, Letkol Laut (P) Wirastyo Haprabu menjelaskan apresiasi tersebut adalah bukti nyata dari keseriusan kerja yang dilakukan pihaknya selama selama bergabung dengan Satgas Maritime Task Force (MTF) TNI Konga XXVIII-O/UNIFIL.
"Menunjukkan bukti nyata akan profesionalisme TNI dalam menghadapi perkembangan situasi yang sangat kompleks dan dinamis terutama di daerah misi perairan Lebanon," kata Wirastyo.
Baca Juga: Persiapan Malindo Jaya, 2 KRI TNI AL Latihan Peperangan Antiudara hingga Penembakan Meriam
Adapun selain memberi penghargaan, kunjungan DFC UNIFIL ke KRI DPN-365 juga diisi dengan pertukaran informasi serta diskusi terkait perkembangan situasi terkini. (un)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































