Kri Canopus-936: Mata dan Telinga Baru TNI AL di Kedalaman Samudra

Langit pagi di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Tanjung Priok, belum sepenuhnya terang ketika siluet lambung putih-biru KRI Canopus-936 perlahan memasuki perairan Jakarta. Setelah menempuh pelayaran sejauh hampir 13 ribu nautical mile selama 57 hari melintasi Atlantik, Afrika, hingga Samudra Hindia, kapal survei tercanggih milik TNI Angkatan Laut itu akhirnya tiba di tanah air membawa lebih dari sekadar teknologi baru.
Jakarta, IDM – Indonesia kembali menegaskan identitasnya sebagai negara maritim dengan hadirnya KRI Canopus-936, kapal bantu hidro-oseanografi ocean going (BHOD-OG) tercanggih yang kini memperkuat jajaran TNI AL.
Kedatangan kapal ini bukan sekadar penambahan alutsista baru, melainkan simbol lompatan strategis Indonesia dalam membangun kemandirian data kelautan, memperkuat keamanan bawah laut, hingga membuka era baru kemampuan penyelamatan kapal selam nasional.
Disambut langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Wakil Menteri Pertahanan RI Marsekal TNI (HOR) (Pum.) Donny Ermawan Taufanto, serta Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, KRI Canopus-936 hadir sebagai representasi modernisasi kekuatan maritim Indonesia yang semakin serius menatap dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik.
Kapal sepanjang 105 meter ini dibangun melalui kerja sama strategis antara industri nasional PT Palindo Marine Batam dengan galangan kapal ternama Jerman, Abeking & Rasmussen (A&R) Bremen.
Dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mencapai hampir 60 persen, proyek ini jadi bukti industri pertahanan nasional mulai mampu mengambil peran penting dalam pembangunan kapal berteknologi tinggi.
"Kapal ini adalah kapal bantu hidrografi oseanografi. Intinya untuk melaksanakan survei, namun ke depan akan bisa digunakan untuk melaksanakan SAR kapal selam atau Submarine Rescue Vessel. Jadi ini nanti merupakan kapal submarine rescue pertama yang kita miliki," ujar KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali.
Adapun sebelum ke Indonesia, KRI Canopus-936 menempuh pelayaran panjang selama 57 hari dari Jerman dalam misi bertajuk Operasi Dhruva Samudra-26. Kapal dengan Komandan Kolonel Laut (P) Indragiri Y. Wardhono tersebut bertolak dari Lemwerder, Jerman, pada 14 Maret 2026 dan me-nempuh jarak sekitar 12.798,5 nautical mile.
Rute pelayaran yang dilalui menunjukkan kemampuan ocean going kapal ini sekaligus membawa misi diplomasi angkatan laut Indonesia. Etape perjalanan dimulai dari Lemwerder menuju Las Palmas, Spanyol, kemudian berlanjut ke Lagos, Nigeria, Cape Town, Afrika Selatan, Port Louis, Mauritius, Lampung, danakhirnya Jakarta.
Selain menjadi uji kemampuan platform, Ali menuturkan pelayaran tersebut juga menjadi ajang validasi sistem, koordinasi teknis, serta pembuktian kesiapan operasional kapal sebelum resmi memperkuat Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal).
Baca Juga: Ikuti Latihan Pitch Black 2026, Ini Spesifikasi Pesawat Tempur T-50i Golden Eagle TNI AU
Kedalaman 11.000 Meter
Salah satu kemampuan paling mencolok dari KRI Canopus-936 adalah kemampuannya melakukan ope-rasi survei hingga kedalaman 11.000 meter. Dengan kemampuan tersebut, Ali menilai kapal ini menjadi salah satu aset survei laut paling modern yang pernah dimiliki Indonesia.
Pasalnya, KRI Canopus-936 di-lengkapi berbagai sensor dan wahana nirawak berteknologi tinggi, seperti ROV (Remotely Operated Vehicle), AUV (Autonomous Underwater Vehi-cle, UUV (Unmanned Underwater Ve-hicle), ASV (Autonomous Surface Ve-hicle), UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dan Hydrographic Survey Launcher.
Tak hanya itu, KRI Canopus-936 juga dilengkapi sistem sonar generasi terbaru dan Expendable Sound Veloc-ity System (XSV).
Teknologi tersebut memungkinkan kapal melaksanakan survei hidrografi, oseanografi, geofisika, pemetaan dasar laut, deteksi objek bawah air, hingga pencarian objek tenggelam dengan tingkat akurasi tinggi.
Di balik fungsi utamanya sebagai kapal survei, KRI Canopus-936 juga memiliki dimensi strategis lain yang jauh lebih besar, yakni menjadi platform utama kemampuan penyelamat-an kapal selam Indonesia.
KSAL mengungkapkan kapal ini nantinya akan membawa Submerged Rescue Vehicle (SRV) atau Advanced Submarine Rescue Vehicle (ASRV) yang saat ini tengah dibangun di Inggris dan diproyeksikan tiba sekitar pertengahan 2027.
"Kapal rescue vehicle-nya dibangun di Inggris. Nanti akan onboard di kapal ini. Jadi kapal ini selain berfungsi sebagai survei hidrografi, dia juga bisa melaksanakan pertolongan terhadap kapal selam apabila mengalami disable," ungkap KSAL.

Kemampuan ini sangat krusial mengingat Indonesia mengoperasikan armada kapal selam yang terus berkembang. Pasalnya, sejauh ini kemampuan submarine rescue masih sangat terbatas di kawasan Asia Tenggara dan umumnya bergantung pada bantuan internasional.
Dengan hadirnya KRI Canopus-936 dan SRV di masa depan, Ali yakin Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara regional yang memiliki kemampuan penyelamatan kapal selam mandiri.
Ekspedisi Jala Citra
KSAL memastikan KRI Canopus-936 akan langsung digunakan untuk misi survei di seluruh perairan Indonesia, termasuk wilayah yang selama ini belum tersentuh pemetaan modern.
"Pasti akan melaksanakan survei di seluruh perairan Indonesia. Selama ini kita hanya punya dua yang baru, ada satu yang lama, tapi sekarang dengan adanya kapal baru ini mudah-mudahan beberapa perairan yang tadinya belum tersentuh pemetaannya akan dilakukan oleh Pushidrosal," ujar KSAL.
Kapal ini juga diproyeksikan mendukung kembali program Ekspedisi Jala Citra, ekspedisi ilmiah dan hidrografi yang selama ini menjadi salah satu agenda penting TNI AL dalam memetakan wilayah laut Indonesia.
Dalam konteks geopolitik dan ekonomi global, data laut punya nilai strategis yang sangat tinggi. Penguasaan data batimetri, arus laut, topografi dasar laut, hingga karakteristik oseanografi menjadi fondasi penting bagi keamanan nasional, eksplorasi energi, pembangunan pelabuhan, hingga navigasi kapal selam.
Baca Juga: Reis-Class dalam Radar Indonesia, Babak Baru Modernisasi Kekuatan Bawah Laut
Ali menegaskan kecanggihan teknologi KRI Canopus-936 tentu membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni. Sehingga, personel TNI AL terus menjalani pelatihan intensif di berbagai negara.
"Mereka melaksanakan pelatihan di Jerman, sebelumnya juga pen-didikan di Prancis dan berbagai nega-ra, termasuk di Indonesia sendiri. Kita sudah ada sekolah hidrografi. Bahkan ada siswa asing yang sekolah di Indonesia," ungkap KSAL.
Pelatihan operator di Jerman berlangsung selama tujuh bulan dan difokuskan pada pengoperasian sensor bawah laut, sistem survei digital, hingga pengendalian wahana nirawak.
Sementara itu, Kadispenal Laksamana Pertama TNI Tunggul mengemukakan kapal ini akan menjadi tulang punggung penyediaan data laut nasional yang akurat demi mendukung keselamatan pelayaran, eksplorasi sumber daya laut, dan penguatan kedaulatan wilayah perairan Indonesia.
"Kehadiran KRI Canopus-936 diharapkan menjadi tulang punggung dalam penyediaan data laut nasional yang akurat, guna menjamin keselamatan pelayaran, mendukung eksplorasi sumber dava laut, serta memperkuat kedaulatan wilayah perairan Indonesia,” paparnya.
Dengan motto “Ksatria Mapaka Samudra", lanjut Tunggul, KRI Cano-pus-936 hadir sebagai garda depan pemetaan dan eksplorasi laut Nusantara yang menjadi simbol bahwa Indonesia tidak hanya ingin menjadi negara maritim secara geografis, tetapi juga berdaulat secara teknologi, data, dan operasi di bawah permukaan samudra.
Pertaruhan Indonesia
Terpisah, Analis pertahanan Indonesia, Fauzan Malufti, menyebut tantangan terbesar di era operasi maritim modern justru terletak pada perlindungan data yang dihasilkan dari aktivitas survei dan pemetaan laut.
"Di era peperangan modern memang semakin banyak data yang kita kumpulkan dan sebarkan, semakin banyak pula data yang harus kita lindungi," ujar Fauzan Malufti kepada Indonesia Defense Magazine.

Menurutnya, keamanan data maritim kini menjadi isu yang sangat krusial lantaran data hidrografi dan oseanografi bukan lagi sekadar kebutuhan navigasi, tetapi telah berkembang menjadi aset strategis pertahanan negara.
Fauzan menjelaskan data kedalaman laut, jalur bawah air, karakteristik akustik laut, hingga pola arus dapat menentukan keberhasilan operasi kapal selam, perang antikapal selam, hingga operasi intelijen maritim.
Fauzan menyebut kemampuan survei TNI AL sejatinya sudah berkembang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran KRI Rigel, KRI Spica, dan kini KRI Canopus menunjukkan Indonesia mulai serius dalam membangun armada survei modern.
“KRI Rigel, KRI Spica, dan KRI Canopus menjadi kapal survei yang penting. Selain itu, survei data kelautan juga dilakukan oleh instansi di luar TNI AL hingga perguruan tinggi, sehingga idealnya juga bisa berbagi data,” ujarnya.
Ia menambahkan pengumpulan data bawah laut tidak selalu harus dilakukan menggunakan kapal survei besar. Teknologi nirawak seperti Unmanned Underwater Vehicle (UUV), Autonomous Underwater Vehicle (AUV), dan Remotely Operated Vehicle (ROV) juga mulai memainkan peran penting dalam operasi hidrografi modern.
Baca Juga: Pesawat Latih Tempur Leonardo M-346 F Block 20 Percepat Proses Transisi Pilot TNI AU
Namun demikian, platform nirawak tetap memiliki keterbatasan di banding kapal survei khusus yang mampu membawa sensor besar, pusat komando data, hingga kemampuan operasi jarak jauh dalam durasi panjang.
Di balik kemampuan multimisi KRI Canopus, Fauzan menilai Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam pengawasan bawah laut, terutama terkait meningkatnya aktivitas kapal selam asing di kawasan Indo-Pasifik.
Menurutnya, lalu lintas armada bawah laut negara-negara besar disekitar perairan Indonesia menjadi salah satu risiko keamanan paling nyata saat ini.
“Kemampuan TNI AL untuk mendeteksi kapal selam asing masih jauh dari cukup, padahal peningkatan lalu lintas armada negara asing menjadi salah satu risiko paling nyata yang kita hadapi,” tegas Fauzan.
Kehadiran KRI Canopus juga berkaitan erat dengan upaya Indonesia membangun kemampuan submarine rescue sendiri. Diketahui, kapal ini akan menjadi platform bagi Submarine Rescue Vehicle (SRV) yang tengah dibangun di Inggris.
Namun, Fauzan mengingatkan membangun kemampuan penyelamatan kapal selam tidak bisa dilakukan secara instan ataupun sepenuhnya mandiri.
“TNI AL harus belajar dari angkatan laut lain termasuk Singapura dan Australia karena akan memakan waktu lebih lama dan mahal atau bahkan mustahil jika kita belajar sendiri,” tegas Fauzan.
Ia menekankan negara-negara besar sekalipun masih sering bekerja sama dalam operasi penyelamatan kapal selam. Faktor keselamatan awak kapal selam membuat kerja sama internasional menjadi kebutuhan yang realistis. “Negara lain pun sering meminta bantuan negara lain ketika ada situasi emergency,” terangnya.
Fauzan pun berharap KRI Canopus dapat memiliki tingkat kesiapan operasi dan capaian misi yang tinggi karena tantangan maritim Indonesia ke depan akan semakin kompleks. “Kita semakin harus mengenal tidak lagi laut kita sendiri tapi juga laut-laut di kawasan kita dengan kondisi geopolitik global yang semakin tidak bisa ditebak,” pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































