HANKAM

KRI Bima Suci Berlayar ke Padang, Bawa Puluhan Kadet TNI AL dan Asing

KRI Bima Suci.
KRI Bima Suci melanjutkan etape ketiga ke Padang dalam rangka pelayaran Kartika Jala Krida 2025. Kapal ini berangkat dari dermaga Kolinlamil, Jakarta, Rabu (6/8). (IDM/Septo Kun Wijaya)

Jakarta, IDM – KRI Bima Suci kembali melanjutkan etape ketiga pelayaran muhibah dan diplomasi Kartika Jala Krida 2025 ke Padang, Sumatra Barat. Kapal berangkat dari dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jakarta, Rabu (6/8).

Kapal layar latih ini membawa 97 taruna Akademi Angkatan Laut (AAL); dua taruna AAU; dua taruna Akademi Militer (Akmil); hingga 38 kadet dari 21 negara angkatan laut yang menjadi peserta pelayaran Asean Plus Cadet Sail 2025.

Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksamana Muda Yayan Sofiyan mengatakan pelayaran Kartika Jala Krida dan Asean Plus Cadet Sail 2025 merupakan salah satu bentuk pendekatan diplomasi TNI AL untuk mendukung kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Baca Juga: Kesiapan Tempur TNI Diuji di Batujajar, Panglima TNI Lakukan Finalisasi

"Jadi, momentum strategis ini akan menanamkan persaudaraan antar-sesama dan membangun sejak dini sebagai calon pimpinan angkatan laut di masa mendatang," kata Yayan, sebelum melepas pelayaran KRI Bima Suci.

Para taruna AAL dijadwalkan berlayar dengan KRI Bima Suci selama 60 hari, mulai 1 Agustus-30 September dengan jarak tempuh sejauh 6.895 mil laut. Rute pelayaran dimulai dari Surabaya–Jakarta–Padang–Malaysia–Thailand–Brunei Darussalam–Tarakan–Makassar dan akan kembali lagi ke Surabaya.

KRI Bima Suci.
Sejumlah kadet AAL bersama kadet dari 21 negara melakukan peran parade roll di tiang-tiang kapal layar, sebagai tradisi ucapan selamat tinggal. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Sedangkan untuk para kadet asing peserta Asean Plus Cadet Sail, ikut berlayar dengan KRI Bima Suci hanya sampai Kota Penang, Malaysia.

Baca Juga: Sosok Komjen Fadil Imran yang Ditunjuk Jadi Asisten Utama Kapolri

Nantinya, selama pelayaran menuju sejumlah rute yang ditentukan, kadet AAL dan asing menjalani agenda pada fase pangkalan (harbour phase) seperti kunjungan kehormatan kepada pejabat militer di daerah yang disinggahi oleh KRI Bima Suci hingga melakukan diplomasi budaya.

Sementara pada fase laut (sea phase) para kadet asing bersama taruna AAL akan mempelajari sejumlah pengetahuan bahari, seperti navigasi bintang, navigasi lingkaran bumi, hingga tradisi "mandi" yang menjadi sertifikasi pelaut Indonesia saat kapal melintasi perairan di titik nol khatulistiwa.

"Pelayaran ini menjadi ajang strategis bagi para taruna untuk mengasah kemampuan profesional, memperluas wawasan kebangsaan serta menjalin hubungan diplomatik melalui soft power maritim dengan negara-negara sahabat," ujar Yayan. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.