Koptu Parnianto Gunakan Seni Wayang untuk Dekat dengan Masyarakat

Jakarta, IDM – Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI AD, Koptu Parnianto dari Kodim 0810/Nganjuk menggunakan seni wayang untuk mendekatkan diri dengan masyarakat.
Berdasarkan keterangan dari penerangan Kodam V Brawijaya, Kamis, (7/11) dengan cara unik ini, Parnianto bisa menciptakan komunikasi yang efektif dan humanis. Wayang, sebagai warisan budaya, mengandung banyak pesan berharga.
Baca Juga: Rotasi Jabatan, Danlanud Adi Soemarmo Pimpin Sertijab Komandan Skadik 402
Tampak Parnianto berinteraksi menggunakan Wayang menyasar anak-anak sekolah dan juga masyarakat umum.

Ketertarikan Koptu pada wayang bermula dari masa kecilnya. Ia belajar membuat wayang dari kardus dan menghidupkan nilai-nilai filosofi dalam setiap pertunjukan.
"Wayang mengajarkan toleransi dan dialog dalam perbedaan, penting untuk kehidupan bersama,"kata Parnianto.
Baca Juga: Robot Tempur Roda Rantai, Inovasi Siswa TNI AD Mampu Deteksi Ranjau
Ke depan ia berharap metode komunikasi ini terus berkembang, sehingga pesan-pesan kebangsaan dan kemasyarakatan dapat tersampaikan dengan baik.
"Mari kita lestarikan budaya dan manfaatkan seni sebagai jembatan untuk memperkuat persatuan," kata Parnianto. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































