HANKAM

Kolaborasi TNI AD dengan Pemprov Jabar, Olah Sampah jadi Solar

KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak
KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat meninjau penataan Situ Bagendit, Kabupaten Garut dan insinerator (alat pembakaran sampah) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciwastra, Bandung, Jawa Barat, Jumat (4/9). (Foto: Dok. Dispenad)

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Darat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan berkolaborasi mengubah sampah menjadi solar. Hal ini diungkapkan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat meninjau penataan Situ Bagendit, Kabupaten Garut dan insinerator (alat pembakaran sampah) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciwastra, Bandung, Jawa Barat, Jumat (4/9).

Menurut Maruli, kedua instansi tengah menyiapkan fasilitas pengolahan sampah menjadi solar yang ditargetkan mulai dibangun bulan ini, dengan masa pembangunan sekitar satu tahun dan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari.

Baca Juga: TNI AD Bangun Kincir Air di Curug Rahong, Kapasitas Hydro Micro 25.000 Watt

"Model tersebut diharapkan dapat direplikasi di daerah lain dengan kapasitas sesuai kebutuhan, termasuk insinerator berkapasitas 300 hingga 500 ton per hari," kata Maruli dikutip keterangan Dispenad, Sabtu (5/9).

Lebih lanjut terkait fasilitas tersebut, Maruli mengatakan TNI AD juga berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mengevaluasi kelayakan operasionalnya. Jika dinyatakan memenuhi persyaratan, pengoperasian akan dipercepat. Sementara, jika belum layak, akan dicari alternatif pengolahan lainnya.

Mengelola Sampah
(Foto: Dok. Dispenad)

“Kita sudah sampaikan, khususnya KLH, apakah ini sudah lulus untuk bisa dioperasikan. Kita bilang kalau ini bisa dipercepat, kalau memang sudah lulus evaluasinya, mungkin kita tingkatkan. Kalau memang tidak bisa, ya kita cari alternatif lain,” ujar Maruli.

Ia pun memastikan berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya TNI AD menghadirkan solusi yang dapat dirasakan langsung masyarakat, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi, pemulihan lingkungan, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait.

Baca Juga: Pangkogabwilhan I dan Pangdam Tanjungpura Semprot Bios 44, Cegah Karhutla di Kubu Raya

Di Situ Bagendit, lanjut Maruli, TNI AD juga sebelumnya telah terlibat dalam pembersihan eceng gondok dan tanaman air yang menutupi sebagian besar permukaan Situ. Penataan tersebut juga diarahkan untuk menghidupkan kembali aktivitas masyarakat, termasuk UMKM di sekitar kawasan.

"Sebenarnya waktu saya datang, ini sudah hampir tertutup, tidak ada perahu dan sekitar 80 persen lebih tertutup (eceng gondok), kita coba bersihkan dan mulai ada warung-warung untuk menggerakan UMKM, di perjalanannya perawatan ternyata tidak mudah, ini yang akan kita evaluasi ke depannya,” tutup Maruli.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.