HANKAM

Kisah Jenderal Agus Subiyanto, Muda Terlunta-lunta Kini Jadi Panglima TNI

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. (IDM/Faisal Ramadhan)

Jakarta, IDM – Menjadi satu-satunya kandidat yang diusulkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi calon Panglima TNI membuat nama Jenderal TNI Agus Subiyanto dikenal masyarakat luas. Agus yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) diajukan mengisi kursi pimpinan tertinggi militer menggantikan Laksamana Yudo Margono yang memasuki usia pensiun pada akhir November 2023.

Namun di balik kariernya yang mentereng, siapa sangka Agus melewati berbagai rintangan hidup sejak kecil. Mengutip viva.com, duka di hidup Agus mulai terasa saat ibunya mangkat saat ia berusia 5 tahun.

Baca Juga: Kilas Balik Pendaratan Perdana Pesawat C-130 Hercules TNI AU di Indonesia

Setelah itu, dia tinggal bersama ayah dan adiknya. Kemudian, hidupnya kembali berubah saat Dedi Unadi, ayah Agus yang berprofesi sebagai prajurit memilih menikah lagi. Duka kembali menyapa Agus saat ia duduk di kelas 2 SMA. Ayahnya meninggal dengan menitipkan harapan agar ia mengikuti jejak Dedi sebagai tentara.

Ayah Agus merupakan seorang Sersan Kepala yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas pada 1984. Setelah kepergian Dedi, Agus bersama adik dan ibu tirinya hidup pas-pasan hanya dengan mengandalkan uang pesiunan ayahnya. Ia kemudian berpikir untuk menerima pesan ayahnya setelah lulus SMA pada 1986.

Agus bekerja keras mengikuti tes masuk Sekolah Calon Kodam III/Siliwangi, namun tidak lolos dan disarankan mengikuti Sekolah Calon Perwira tanpa tes. Agus menolak tawaran itu dan mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan sebagai satpam sebuah pusat perbelanjaan di Bogor, Jawa Barat. Tapi Agus harus kembali menelan kekecewaan, ia ditolak dari pendaftaran satpam tersebut.

Baca Juga: Benteng Den Haan dan Gereja Tua, Saksi Sejarah Kedatangan Portugis dan Belanda di Maluku Barat Daya

Singkat cerita, dua tahun berlalu atau tepatnya pada 1988, Agus kembali menjajal seleksi masuk Akabri. Setelah memasuki sejumlah rangkaian tes, Agus dinyatakan lulus. Ia bahkan menjadi lulusan dengan nilai terbaik kedua se-Jawa Barat.

Melansir detik.com, Agus lulus dari Akabri pada 1991. Kemudian pada 1995, ia dipercaya terjun dalam Operasi Seroja di Timtim. Keberhasilan itu membawanya pada kesempatan mengikuti pendidikan Parako/Kopassus lalu dipromosikan menjadi Danyon 22 Grup 2 Parako Kopassus. Karier Agus kemudian kian meroket setelah dirinya bertugas sebagai Dandim Surakarta pada 2011. (un)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.