HANKAM

Kepala BNPB Baru Letjen Kristomei Sianturi, Hobi Lari dan Ingin Sekolah Teknik Penerbangan

Mayjen Kristomei Sianturi
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal (Letjen) Kristomei Sianturi. (IDM /Faisal Ramadhan)

Jakarta, IDM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal (Letjen) Kristomei Sianturi yang baru saja dilantik Presiden Prabowo Subianto punya sisi lain yang menarik.

Dalam wawancara eksklusif Indonesia Defense Magazine, medio Juni 2025, mantan Kadispenad, Kapuspen TNI dan Pangdam XXI/Radin Inten ini mengaku selalu menyempatkan diri untuk berolahraga lari. Ia bisa menghabiskan jarak 5-6 kilometer untuk berlari dalam sehari.

“Bahkan kalau weekend saya bisa lari panjang, 10-15 kilometer,” kata Kristomei.

Baca Juga: Yusuf Jauhari dan Richard Tampubolon Dilantik jadi Wamenhan, Punya Dua Fokus Berbeda

Lebih lanjut pria yang lahir di Kota Bumi, Lampung Utara, 50 tahun silam ini, lari adalah olahraga yang paling murah. Modal yang diperlukan hanya niat.

“Fase yang terberat itu pada saat pakai sepatu, bagaimana mengumpulkan niat. Tapi kalau sudah mulai melangkah dan ketemu ritmenya apalagi sambil mendengarkan musik, sudah tinggal lari saja,” kata Kristomei yang memastikan tidak pernah menentukan jadwalnya berlari, kadang pagi, siang bahkan malam.

"Olahraga lari juga menjadi sarana pelatihan mental terutama kesabaran. Pelari akan melawan dirinya sendiri, mau berhenti atau berlari hingga finish. Belajar melatih diri sendiri, atur ritmenya, kapan harus pelan berlari, percepat, pokoknya intinya bisa melawan diri sendiri,” kata Kristomei.

Tak Memiliki Latar Belakang Keluarga Militer

Kristomei merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1997 dari kecabangan Infanteri.
Menurutnya latar belakang keluarganya tak ada satupun dari militer. Ayahnya seorang wiraswasta dan ibunya adalah seorang guru. Dirinya bahkan sempat dilarang jadi tentara, karena ia anak laki-laki satu-satunya, penerus marga dalam keluarganya yang bersuku Batak.

Baca Juga: Jenderal Tandyo Dilantik jadi KSAD, Jenderal Maruli Gantikan Posisi Wapang

"Karena hal itu, saya memang menyukai teknik, saya menghabiskan pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga SMP di Lampung, kemudian melanjutkan pendidikan SMA di Bandung dan berencana kuliah di ITB,” kata Kristomei.

Namun dalam perjalanannya, ia tidak jadi bersekolah di Bandung, karena lebih dahulu diterima di SMA Taruna Nusantara di Magelang. Di awal masuk SMA Taruna, Kristomei ditanya keinginannya, hendak ke mana pascapendidikan. Ia mengaku hendak masuk ITB mengambil jurusan teknik penerbangan.

"Kenapa tidak mau masuk Akabri (sebutan TNI di masa itu)?” tanya pewawancara, seperti ditirukan Kristomei.

“Siap! Saya tidak suka ABRI,” jawab Kristomei saat itu.

Baca Juga: Perluas Jangkauan Operasi, TNI AL Siagakan Puskodal Mobile untuk Amankan Laut

“Dari awal sudah dipisahkan sebenarnya sesuai wawancara, mana yang nanti masuk ranah sipil dan mana yang masuk militer. Porsi olahraga juga dibedakan dari senam, lari. Dalam perjalanannya kami juga sering diajak berkeliling ke Akmil, AAU, dan AAL. Melihat kegiatan di akademi tersebut saya luluh. Wah, enak juga ini sekolah sepertinya,” kata Kristomei.

Di akhir masa pendidikan di SMA, Kristomei memutuskan untuk mendaftarkan diri ke semua jenjang pendidikan lewat jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dari Akabri hingga Sekolah Tinggi Akuntansi Nasional (STAN).

“Alhamdulillah saya diterima semuanya, namun nasib berkata lain, saya terlanjur tes pantukhir (pemantauan akhir) di Akmil dan diterima. Ini tentu sudah menjadi tanggung jawab untuk memilih pendidikan ini, saya ikuti,” kata Kristomei.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.