Kapten TNI AL Lulus S2 Militer AS, Raih IPK Nyaris Sempurna

Jakarta, IDM – Perwira TNI AL, Kapten Laut (P) Muhammad Fiftah Taufan Lubis, mengukir prestasi gemilang di Amerika Serikat (AS). Ia sukses merampungkan studi S2 di Naval Postgraduate School (NPS) California dengan raihan indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,88.
Fiftah menyelesaikan pendidikan magister sains tersebut selama 18 bulan di Department of Defense Analysis. Perwira berpangkat balok tiga ini mendalami program Information Strategy and Political Warfare atau taktik strategi informasi dan peperangan politik melalui jalur beasiswa khusus.
Lembaga pascasarjana di Monterey tersebut merupakan kampus elite milik Departemen Pertahanan AS yang menyelenggarakan pendidikan bagi perwira militer dunia. Dalam prosesi wisuda musim semi 2026, Fiftah lulus bersama 405 personel militer dan pegawai sipil dari 18 negara sahabat.
Baca Juga: 560 Calon Tamtama TNI AU Digembleng jadi Prajurit Tangguh dan Profesional lewat Latganda
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul, mengatakan keberhasilan Fiftah membuktikan sumber daya manusia pertahanan Indonesia memiliki daya saing yang sangat tinggi di tingkat global.
"Keberhasilan Kapten Fiftah meraih IPK nyaris sempurna di institusi bergengsi Amerika Serikat ini mencerminkan komitmen kuat TNI AL dalam mencetak prajurit berwawasan internasional. Pengetahuan mendalam mengenai strategi informasi dan peperangan politik ini menjadi aset penting untuk memperkuat keamanan nasional," ujar Tunggul dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (20/6).
Bersaing Ketat dengan Ratusan Perwira AS
Fiftah harus bersaing ketat dalam iklim akademik yang kompetitif di California. Mayoritas lulusan dalam angkatannya didominasi oleh perwira elite Pentagon, yang terdiri atas 207 personel Angkatan Laut AS, 68 personel Korps Marinir AS, 34 personel Angkatan Darat AS, hingga puluhan pegawai sipil pemerintah federal setempat.
Upacara kelulusan tersebut turut dihadiri langsung oleh jajaran petinggi militer AS, termasuk Presiden NPS Laksdya Ann E. Rondeau. Selain itu, perwakilan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco juga hadir mendampingi untuk menyaksikan penyerahan gelar magister tersebut.
Baca Juga: Sebelum ke Hawaii, Marinir Digembleng Taktik Mobilisasi Udara di Pondok Cabe
Pihak TNI AL menegaskan, pengiriman perwira ke kampus top dunia merupakan bagian dari rencana jangka panjang organisasi. Penguasaan ilmu strategi informasi ini diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia.
Modal Kuat Hadapi Perang Informasi Modern
Ilmu terapan yang dibawa pulang oleh Fiftah dinilai sangat relevan dengan dinamika keamanan siber hari ini. Pengalaman akademik tersebut bakal langsung diserap untuk memperkuat kapasitas deteksi dini dan komunikasi strategis di internal TNI AL.
Sektor strategi informasi dan peperangan politik saat ini menjadi elemen krusial dalam doktrin pertahanan modern. Kemampuan ini membuat jajaran perwira semakin adaptif dalam menangkal propaganda digital dan mengamankan data strategis negara.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































