HANKAM

Kapten Latief Zain, Dokter Hewan yang Ditugaskan untuk Misi Perdamaian

Kapten Ckm drh Muhammad Abdul Latief Zain
Kegiatan Kapten Ckm drh Muhammad Abdul Latief Zain, M. Biotech menjadi dokter hewan UN Peacekeeper di Lebanon. (Foto: Instagram @lathief_zain)

Jakarta, IDM – Kapten Ckm drh Muhammad Abdul Latief Zain, M. Biotech punya kisah istimewa menjadi dokter hewan di TNI. Ia terpilih dan lolos seleksi menjadi seorang dokter hewan yang mengabdi sebagai UN Peacekeeper di Lebanon.

Dilansir dari platform media berbasis komunitas yang dikelola oleh dokter hewan, @vetindonesia, Sabtu (14/2), kisah Latief dimulai saat rekruitmen awal menjadi prajurit TNI.

Latief lahir di tengah keluarga pendidik. Awal mulanya ia bercita-cita menjadi seorang dosen. Namun, garis takdir membawanya ke arah yang berbeda. Setelah sempat meniti karier di industri pabrik dan RPA pasca lulus tahun 2016, sebuah peluang besar muncul yaitu Rekrutmen TNI.

Baca Juga: Kasdam XVII/Cenderawasih: Operasi Gaktib 2026 Wujudkan Prajurit TNI yang Prima dan Profesional

"Tes rekrutmen dilalui Latief dengan persaingan yang sangat sengit. Namun, ia berhasil membuktikan dedikasinya. Dari ratusan pendaftar di seluruh Indonesia, di tahun 2016 hanya enam dokter hewan yang dinyatakan lolos, dan Latief adalah yang termuda di antara mereka," tulis @vetindonesia.

Kapten Ckm drh Muhammad Abdul Latief Zain
(Foto: Instagram @lathief_zain)

Dari sini Latief memulai dedikasinya. Tercatat ia mulai berprestasi di bidang akademik, dengan menjuarai berbagai lomba karya ilmiah di lingkungan TNI AD. Dan puncaknya lolos seleksi UN Peacekeeper di Lebanon.

Baginya menjalankan misi di bawah bendera PBB berarti memikul tanggung jawab besar. Ia harus memastikan dapur dan sumber air di seluruh batalion multinasional memenuhi standar kesehatan tertinggi melalui audit berkala dan pengendalian hama yang presisi.

"Di sisi lain, aksi nyatanya sebagai dokter hewan terbukti dari 50-70 ekor anjing dan kucing liar yang berhasil ditangani hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Lewat sterilisasi dan vaksinasi rabies, ia menciptakan lingkungan yang sehat dan terkontrol bagi seluruh personel di Markas Besar UNIFIL," jelas @vetindonesia.

Baca Juga: TNI AD Ciptakan Incinerator Ramah Lingkungan untuk Atasi Sampah

Bekerja di Bawah Bayang-bayang Rudal dan Serangan Drone

Tugas di wilayah konflik berarti harus siap menghadapi ancaman ganda yaitu wabah dan perang. Di Lebanon, Rabies menjadi musuh yang tak terlihat-anjing, kucing, hingga rubah liar yang terinfeksi sering kali menyerang manusia.

"Tak hanya melawan virus dan cuaca ekstrem, Lathief bekerja di bawah bayang-bayang rudal dan serangan drone. Di sini, ia tidak hanya bersenjatakan stetoskop, tetapi juga wajib mengenakan helm dan rompi tempur demi keselamatan nyawa," tulis @vetindonesia.

Namun, walaupun dalam bayang-bayang ini bagi Latief, filosofi seorang dokter hewan menjadi pioner.

Baca Juga: Menhan Sjafrie Pastikan Progres Pengerukan Muara Kuala Penaga oleh Satgas Kuala

"Bagi saya, profesi ini adalah ilmu kehidupan yang membuka pintu dunia. Bukan sekadar medis, tapi tentang menghidupi sesama, membangun relasi internasional, dan menjaga kesehatan global," kata Latief.

Ia berpesan bahwa segala profesi yang dijalankan harus dinikmati dan dicintai karena akan berefek pada karier.

"Cintailah profesi ini seutuhnya. Peluang karirmu membentang luas-dari klinis, industri, akademik, hingga militer internasional. Jangan ragu mencoba segala kemungkinan. Persiapkan dirimu, kejarlah mimpimu, dan teruslah berkembang," pesan Latief. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.