HANKAM

Kapal Selam Scorpene TNI AL Dibekali AI, Proyeksikan Solusi Tempur Cepat

Thierry
Direktur Pemasaran Operasional untuk Kapal Selam, Naval Group, Thierry Petit (kiri) saat pemaparan di Naval Group, Toulon, Prancis, Selasa (6/10). (Foto: Dok. GICAN / Benoit PREVOST)

Toulon, IDM - Pembangunan dua kapal selam Scorpene Evolved pesanan TNI Angkatan Laut terus memperbarui standar teknologinya. Pabrikan asal Prancis menyematkan sistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ke dalam pusat kendali bawah air untuk membantu awak kapal memproses data pertempuran secara instan.

Direktur Pemasaran Operasional untuk Kapal Selam Naval Group, Thierry Petit, menjelaskan lonjakan informasi dari berbagai sensor bawah air sering kali membebani konsentrasi kru di ruang kendali. Kehadiran kecerdasan buatan dirancang sebagai asisten virtual yang membantu menghitung jalur intersepsi, mengenali jenis kontak kawan atau lawan, serta menyodorkan opsi solusi taktis tanpa jeda waktu lama.

"Sistem manajemen tempur kapal selam Scorpene untuk Indonesia saat ini terus mengalami integrasi dan evolusi, termasuk penyesuaian teknologi terkini," ujar Thierry saat tur Euronaval di fasilitas Naval Group, Toulon, Prancis, Selasa (6/10).

Baca Juga: KSAD Beri Pesan Khusus untuk 1.944 Taruna Akademi TNI-Polri yang Baru Wisuda

Thierry menegaskan. teknologi kecerdasan buatan tersebut tidak mengambil alih kendali penuh atas kapal. Naval Group mempertahankan prinsip pengawasan manusia (human-in-the-loop), sehingga keputusan akhir eksekusi maupun manuver tempur tetap berada di tangan komandan kapal selam TNI AL.

Vaxelaire
Direktur Pengembangan dan Promosi Kapal dan Sistem Permukaan, Naval Group, Michael Vaxelaire. (Foto: Dok. GICAN / Benoit PREVOST)

"Kami memastikan seluruh sistem pengendali itu bisa disesuaikan dengan preferensi serta kebutuhan spesifik setiap negara pengguna, termasuk Indonesia," tambahnya.

Penerapan kecerdasan buatan ini melengkapi arsitektur dasar sistem manajemen tempur atau Submarine Tactical Integrated Combat System (SUBTICS) yang sedang dirancang bagi armada Indonesia. Direktur Pengembangan dan Promosi Kapal dan Sistem Permukaan Naval Group, Michael Vaxelaire, memaparkan kerangka digital tersebut menyatukan seluruh mata dan telinga kapal ke dalam satu layar kendali utama.

Baca Juga: Masih Tahap Pengembangan, TNI AL Punya Waktu Sesuaikan Sistem Senjata Kapal Selam Scorpene

"Seluruh sensor mulai dari sonar hingga sistem pencegat elektronik melebur ke dalam satu kesatuan sistem taktis guna memangkas waktu reaksi komandan di ruang kendali," kata Michael.

Michael memastikan seluruh perangkat lunak dan perangkat keras tersebut harus lolos uji coba tanpa celah (zero-defect) di pabrikan sebelum dikirim ke Indonesia. Pengujian ketat ini dilakukan agar sistem bekerja sempurna begitu kapal beroperasi menjaga kedaulatan perairan Indonesia.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.