Kapal Perang TNI AL Kini Gunakan Listrik Darat, Efisiensi BBM Terjaga

Jakarta, IDM – TNI AL kini resmi memanfaatkan listrik aliran darat dari PT PLN (Persero) untuk mendukung operasional kapal perang (KRI) yang sandar di Koarmada II, yaitu di dermaga Madura, Semampir Lama, dan Semampir Baru.
Layanan listrik khusus ini menyediakan tegangan 690V/60Hz dan 440V/60Hz, sebagai alternatif penggunaan BBM untuk genset KRI sekaligus menekan biaya operasional dan dampak lingkungan.
Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut (Aslog KSAL) Laksamana Muda Eko Sunarjanto, menekankan pemanfaatan listrik darat PLN menjadi langkah tepat untuk menjaga keberlanjutan operasional KRI.
Baca Juga: Rotasi Jabatan, Wakasau Pimpin Sertijab Kapuskodalau
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang menyiapkan sambungan listrik baru sebesar 4,33 MVA, serta tim Mabesal, Koarmada II, dan Kodaeral V yang mengawasi pembangunan jaringan listrik agar berjalan sesuai standar kebutuhan.
“Pemanfaatan listrik aliran darat jaringan khusus PLN menjadi solusi efisien dan ramah lingkungan, serta mengurangi jam putar peralatan KRI. Dengan cara ini, operasional kapal lebih hemat biaya dan berkelanjutan,” ujar Eko saat menghadiri penandatanganan perjanjian kerja sama layanan listrik khusus, Jakarta, Rabu (17/9).
Dari sisi PLN, Direktur Retail dan Niaga Adi Priyanto, menyatakan kebanggaannya karena listrik yang biasanya menopang kehidupan masyarakat dan kegiatan industri kini juga digunakan untuk menjaga kesiapan kapal perang sebagai garda depan penjaga kedaulatan bangsa.
“Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi simbol sinergi strategis antara BUMN ketenagalistrikan dan institusi pertahanan negara. Layanan Onshore Electric Connection ini dapat menopang lebih dari 60 KRI di Koarmada II, dan ke depan berpotensi diperluas ke wilayah kerja TNI AL lainnya,” ungkapnya.
Penandatanganan perjanjian kerja sama dilakukan oleh Kepala Dinas Fasilitas Pangkalan Angkatan Laut (Kadisfaslanal) Laksamana Muda Jusep Wildan, dan GM UID Jawa Timur PLN Ahmad Mustaqir.
Baca Juga: Dankoharmatau Soroti Pentingnya Kesiapan Satuan Hadapi Perkembangan Teknologi
Adapun langkah pemanfaatan listrik darat ini juga relevan dengan keluhan TNI AL terkait tunggakan BBM operasional dari Pertamina yang mencapai triliunan rupiah. Sebelumnya, KSAL Laksamana Muhammad Ali menyebut kondisi ini mengganggu kesiapan operasi kapal dan mendorong agar harga BBM TNI AL disamakan dengan subsidi yang diterima Polri.
“Untuk bahan bakar memang ini masih sangat terbatas. Kemarin ada tunggakan itu bahan bakar Rp2,25 triliun, dan saat ini kita sudah dikenakan harus membayar utang lagi Rp 3,2 triliun. Itu sebenarnya tunggakan,” kata Ali dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (28/4) lalu.
Sinergi untuk pemanfaatan listrik darat ini menegaskan posisi TNI AL dan PLN sebagai mitra strategis energi dan kekuatan maritim, sejalan dengan arahan Ali yang menekankan komitmen TNI AL dalam penguatan pertahanan negara yang terpadu dan berkelanjutan. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































