TNI AL menghadirkan solusi konkret bagi mobilitas prajurit yang berdomisili di wilayah penyangga Ibu Kota. Bukan sekadar mengikuti tren, TNI AL resmi mengoperasikan armada bus listrik untuk mempermudah akses transportasi anggota dari wilayah pinggiran Jakarta menuju markas.
TNI AL melakukan langkah revolusioner untuk mengefisiensikan anggaran negara di sektor energi. Tak tanggung-tanggung, korps laut ini menargetkan pemangkasan biaya operasional Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 50 persen melalui penggunaan kendaraan listrik secara masif di lingkungan militer.
TNI AL bergerak taktis menyiasati kelangkaan energi akibat gejolak global. Tak hanya masif menggunakan kendaraan listrik di darat, jajaran korps laut ini mulai memodifikasi permesinan kapal perang agar mampu mengonsumsi bahan bakar nabati B50 secara optimal.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menyiapkan strategi khusus untuk memangkas penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dalam operasional di laut. TNI AL bakal mengandalkan teknologi nirawak sebagai solusi menjaga kedaulatan maritim di tengah keterbatasan energi.
TNI AL kini resmi memanfaatkan listrik aliran darat dari PT PLN (Persero) untuk mendukung operasional kapal perang (KRI) yang sandar di Koarmada II, yaitu di dermaga Madura, Semampir Lama, dan Semampir Baru.