Kapal Cepat Rudal 60 Meter KRI Tombak-629 Berganti Komandan

Jakarta, IDM - Komandan Satuan Kapal Cepat (Dansatkat) Koarmada II Kolonel Laut (P) Didik Kusyanto memimpin upacara sertijab Komandan KRI Tombak-629 di geladak haluan kapal, Rabu (18/10).
Dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, Komandan KRI Tombak-629 yang semula dijabat oleh Letkol Laut (P) Rudi Iskandar diserahkan kepada Letkol Laut (P) Dexaseptian Burlis.
Baca Juga: Pentingnya Ilmu “Kartografi” Peta Khusus bagi Prajurit Satfib dan Satkopaska Koarmada II
Melalui sambutannya, Didik menyampaikan bahwa sertijab merupakan proses dinamisasi dan pembinaan organisasi dihadapkan dengan tantangan tugas.
"Dari sisi dinamisasi organisasi, serah terima jabatan merupakan kebutuhan akan suatu rotasi untuk penyegaran organisasi dalam rangka pelaksanaan tugas," ujar Didik.
Baca Juga: KSAD Beri Bantuan Kendaraan Operasional untuk Ponpes di Jatim
Sedangkan dari sisi pembinaan organisasi, ia memaparkan serah terima jabatan adalah bagian dari pembinaan personel untuk memberikan kesempatan terjadinya proses regenerasi dan pengembangan karier.
"Hal ini untuk meningkatkan kapasitas, kapabilitas dan kualitas kinerja personel sesuai peran, tugas dan fungsinya," paparnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































