Jejak Tempur KRI Ki Hajar Dewantara: Hadang Kapal Portugal hingga Perompak Somalia

Jakarta, IDM – KRI Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu kapal perang paling bersejarah milik TNI AL. Fregat latih tempur ini kenyang asam garam menjaga kedaulatan laut nusantara, mulai dari ketegangan perbatasan maritim hingga operasi pembebasan sandera di belahan dunia lain.
Indonesia mendatangkan armada bernomor lambung 364 ini dari galangan Brodogradiliste Split di Yugoslavia pada 1978. Kapal resmi memperkuat jajaran TNI AL sejak 31 Oktober 1981. Meski fungsi utamanya mendidik calon perwira, lambungnya terpasang persenjataan lengkap, seperti meriam Bofors 57 milimeter, tabung peluncur torpedo, serta peluru kendali permukaan Exocet.
Baca Juga: Kopaska dan US Navy SEAL Latihan Tempur Jarak Dekat hingga Sniper
Kiprah tempurnya terentang di berbagai palagan operasi. Pada dekade 1980-an, alutsista legendaris ini aktif mengamankan jalur logistik dan berpatroli dalam Operasi Seroja di Timor Timur. Ketegasannya kembali terbukti pada 11 Maret 1992 saat memimpin pencegatan sekaligus mengusir kapal feri berbendera Portugal, Lusitania Expresso, yang berupaya menerobos perairan teritorial Dili tanpa izin.
Memasuki era 2000-an, kapal ini terus mengemban misi besar, mulai dari pengiriman bantuan darurat pascatsunami Aceh dan Nias pada 2004–2005 hingga pengamanan perbatasan laut RI–Filipina lewat Operasi Gurita. Reputasinya makin melambung di kancah internasional pada 2011, saat bergabung dalam Satgas Samudra Merah Putih untuk memburu perompak bersenjata yang menyandera awak kapal MV Sinar Kudus di Teluk Aden, Somalia.
Di luar tugas tempur, armada di bawah Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmada II ini menjadi kawah candradimuka pelayaran lintas samudra Kartika Jala Krida (KJK) bagi taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) sejak 1982 hingga 2017. Ribuan calon perwira mengasah ilmu navigasi bintang, olah gerak pertempuran laut, dan misi diplomasi di atas geladaknya saat mengarungi perairan Asia Pasifik, Australia, hingga Samudra Hindia.
Baca Juga: KRI Bung Hatta Merapat di Manggarai, Pasok Sembako Ribuan Pengungsi Gempa NTT
Pengabdian panjang selama 38 tahun tersebut akhirnya berakhir akibat penurunan performa mesin pendorong utama dan keterbatasan suku cadang. TNI AL resmi memensiunkan KRI Ki Hajar Dewantara lewat upacara penurunan ular-ular perang di Dermaga Ujung, Surabaya, Jawa Timur, pada 16 Agustus 2019 di era Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Siwi Sukma Adji.
Kini, nasib fisik sang kapal perang legendaris memasuki babak akhir pengelolaan aset negara. Presiden Prabowo Subianto telah melayangkan Surat Presiden (Surpres) Nomor R-33 tertanggal 14 Juli 2026 ke DPR RI untuk meminta persetujuan penjualan kapal, yang saat ini tengah bergulir pembahasannya di Senayan.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































