Jajal F-16, KSAL Curhat Jadi Penerbang Tempur Ternyata Sulit

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali berkesempatan terbang dengan jet tempur F-16 selama 30 menit bersama Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.
Kesempatan mencoba pesawat canggih tersebut dilakukan dalam rangkaian acara penyematan brevet Wing Penerbang Kehormatan Kelas I dari TNI AU di Lapangan Udara Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, Selasa (21/3).
Baca Juga: Wamenhan: Penerbang TNI AU Adalah Orang-orang Hebat
Ali menyampaikan, penyematan penghargaan brevet Wing Penerbang ini adalah suatu kehormatan dan kebanggaan.

"Terima kasih untuk bisa menjadi warga kehormatan dari penerbang TNI AU. Saya biasa di laut dan di bawah laut, sekarang di udara ternyata sulit sekali," ucap Ali dikutip dari keterangan Dispenal, Rabu (22/3).
Baca Juga: Usai Tunaikan Misi Kemanusiaan di Turki, Satgas TNI AU Pulang ke Tanah Air
Penghargaan ini juga salah satu bentuk soliditas antarmatra di tubuh TNI, di mana sebelumnya TNI AL memberikan penghargaan kepada KSAU dengan menyematkan brevet Hiu Kencana TNI AL pada Desember 2022 dan juga diangkat sebagai warga kehormatan Korps Marinir pada Januari 2023. (at)
Hankam

Pengerahan 20 Ribu Prajurit TNI AL ke Jakarta: Siaga Ibu Kota dan Latihan di Tanjung Burung
TNI AL mengerahkan sebanyak 20.980 prajurit ke wilayah DKI Jakarta dan daerah penyangga. Pengerahan skala besar ini berfungsi untuk mempertebal pengamanan objek vital sekaligus mempersiapkan rangkaian latihan pendaratan amfibi.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































