Ini Hasil Investigasi Sementara Penyebab Jatuhnya Heli Bell 412 TNI AD

Jakarta, IDM - TNI AD melalui Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Hamim Tohari resmi merilis hasil investigasi sementara jatuhnya Helikopter Bell 412 milik TNI AD di Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu.
Menurut Hamim, berdasarkan hasil investigasi sementara, jatuhnya Heli Bell 412 dengan nomer registrasi HA 5187 disebabkan faktor cuaca. Dia menyebutkan, saat melakukan penerbangan, cuaca di wilayah tersebut hujan dan berkabut.
"Penyebab dominannya adalah aspek cuaca di wilayah tersebut yang ditutupi kabut dan hujan rintik-rintik," katanya dikutip dari Kompas, Minggu (4/6).
Baca Juga: Mengenal Satgas BGC TNI dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB
Akibatnya, Heli yang digunakan untuk latihan dropping logistik tersebut mengalami nose up (hidung atau bagian depan pesawat naik) sehingga kecepatan helikopter menurun.
"Pada ketinggian 6.500 tiba-tiba kapten pilot merasakan nose up dan kecepatan pesawat mulai berkurang," ungkapnya.
Setelah itu, lanjut dia, dalam hitungan detik Heli Bell 412 terkena down-draff (hetakan ke bawah) kemudian kapten pilot kehilangan ketinggian.
Baca Juga: Selesaikan Latihan Pratugas Prajurit Yonif Raider 300/BJW Akan ke Papua Hadapi KKB
"Saat itu pilot berusaha menstabilkan posisi pesawat agar tetap dalam keadaan level seharusnya," ungkap dia.
Helikopter Bell 4120, sambung dia, mengalami penurunan ketinggian dari 6.100 ke 5.400 dengan VSI 2.000 FPM.
"Kondisi cuaca ekstrem tersebut telah mengakibatkan pesawat akhirnya jatuh. Demikian secara garis besar yang dapat saya sampaikan," terangnya. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































