Ini Alasan KSAD Ingin Ubah Doktrin TNI AD

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Agus Subiyanto membeberkan alasan ingin merevisi doktrin TNI AD yang selama ini sudah dijalani. Ia menyebut doktrin-doktrin yang selama ini digunakan adalah doktrin yang lama, sedangkan sekarang doktrinnya harus mengikuti banglistra (perkembangan lingkungan strategis).
Baca Juga: Puspenerbal Gelar Tactical Floor Game Latihan Operasi Laut Aspek Udara 2023
"Mungkin dulu mungkin beda, banglistra sekarang ada peperangan (elektronik, red.). Itu menjadi referensi kita untuk mengubah doktrin,” kata Agus saat menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela acara peluncuran Gerakan Nasional Ketahanan Pangan di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, (1/11).
Dia menilai matra lainnya, misalnya TNI Angkatan Udara, mulai mengubah doktrinnya mengikuti ancaman yang berkembang, di antaranya mulai menggunakan teknologi-teknologi nirawak seperti drone.
Baca Juga: Di Hadapan Pasis Sesko TNI, KSAU Ungkap 3 Aspek Kunci Pengembangan Kekuatan TNI AU
"(TNI) Angkatan Udara saya dengar sudah mengubah organisasinya ya, makanya tadi saya bilang, karena saya masih Angkatan Darat, jadi saya masih akan ubah doktrin Angkatan Darat dulu,” kata Agus. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































