HANKAM

In Memoriam Jenderal Agus Widjojo, Sang Tentara Intelektual

Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo.
Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo. (Foto: Dok. KBRI Manila)

Jakarta, IDM - "Pertemuan yang berhari-hari dengannya memberi kesan bahwa Agus Widjojo merupakan jenderal intelektual yang fasih pemikiran politik dan militer dalam konteks perubahan jaman," begitulah kata Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini mengenang sosok Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo yang meninggal dunia pada Minggu (8/2) malam, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Agus adalah Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Filipina sekaligus Eks Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) periode 2016-2022. Ia juga seorang mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat mewakili Fraksi TNI/Polri periode 2001-2003.

Rachbini mengisahkan mengenal Jenderal Agus Widjojo sejak awal 1990-an ketika bersama-sama merancang dan melaksanakan seminar Angkatan Darat kedua di Bandung.

Baca Juga: Serah Terima Kawal Istana jadi Simbol Kontinuitas Pengamanan Negara

"Kalangan intelektual sipil seperti saya dan banyak kawan-kawan yang lain nyaman bertukar pikiran dengan Agus Widjojo. Selain santun dan ramah, pemikirannya sangat bernas dan menjunjung pemikiran profesionalisme TNI dan sekaligus suppremasi sipil," kata Rachbini.

Lebih lanjut di kalangannya kata Rachbini, Agus sering disebut “tentara intelektual atau perwira intelektual” karena posisinya yang khusus dan unik, yakni sebagai elite militer dan perwira tinggi TNI, tetapi sekaligus pemikir strategis yang konsisten mendorong demokratisasi.

"Pemikirannya tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil tidak lain untuk tujuan yang dipikirkannya, demokrasi modern dimana masyarakat madani seimbang dalam Trias Politica, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pemikirannya di bidang politik dan militer sangat berpengaruh terutama pada masa transisi Reformasi," kata Rachbini.

Baca Juga: Tinjau Kesiapan Yon TP 857 dan Brigif TP 31, Menhan Sjafrie: Prajurit TNI adalah Tentara Rakyat

Arsitek Intelektual yang Menutup era Dwifungsi ABRI

Menurut Rachbini, Agus adalah salah satu arsitek intelektual yang menutup era Dwifungsi ABRI. Agus berpandangan bahwa militer yang profesional, kuat dan paham peranan sejatinya sebagai benteng tanah air justru lahir dari demokrasi, bukan dari kekuasaan politik pragmatis di lapangan.

"Keterlibatan militer dalam dalam kehidupan sosial politik praktis justru melemahkan profesionalisme TNI. Bagi Agus kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis. Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan “penjaga kekuasaan”, melainkan alat negara untuk pertahanan," terang Rachbini.

Lebih lanjut Rachbini mengatakan di kalangan perwira senior banyak yang pemikiran dan wawasannya sangat luas dalam bidang sosial politik dan tepat disebut sosok perwira intelektual. Selain Agus Widjojo, kita kenal almarhum Jenderal Sajidiman Suryohadiprodjo, Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jenderal ZA Maulani dan Jenderal Prabowo Subianto.

Baca Juga: TNI AD Wujudkan Swasembada Pangan Melalui Program Agroforestry

"Kita kenal pemikiran SBY dan think tank yang didirikannya, yakni Brighten Institute dan sekarang The Yudhoyono Institute. Sementara Prabowo dan kawan-kawan (Din Syamsuddin, Fadli Zon, dkk) pernah mendirikan lembaga think tank CPDS (Center for Policy and Development Studies). Namun di kalangan jenderal dan perwira sekarang kita sulit mengenali tentara intelektual seperti Agus widjojo dan kawan-kawan," kata Rachbini.

Di Lemhanas, lanjut Rachbini fungsi intelektual dan strategisnya Agus terus berjalan menyebar ke kalangan elit pemimpin pemerintahan. Lemhanas yang dipimpinnya adalah dapur pemikiran negara (state strategic thinking), yang membentuk cara pandang elite memahami dinamika sistem modern, civil societym, geoekonomi dan geopolitik.

"Pendek kata intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, yang belum tentu ada penggantinya," kata Rachbini. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.