Gelar Pertemuan Bilateral, TNI AU–TUDM Bahas Latma Elang Malindo dan Jajaki Potensi Kerja Sama

Jakarta, IDM - TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan Angkatan Udara Malaysia (Tentara Udara Diraja Malaysia/TUDM) berencana untuk menggelar latihan bersama (latma) Field Training Exercise (FTX) Elang Malindo di Pontianak pada September 2024.
Rencana tersebut terungkap melalui pertemuan bilateral yang digelar oleh kedua angkatan udara bertajuk ‘Pertemuan ke-81 Tim Perancang Latihan Udara (TPLU)’ di Malaysia, Rabu (7/8).
Wakil Asisten Operasi (Waasops) KSAU Marsma TNI M. Untung Suropati bertindak sebagai pimpinan delegasi TNI AU. Sementara itu, delegasi TUDM dipimpin oleh Ketua Staf Markas Wilayah Udara 1 TUDM, Brig Jen Ahmad Khusairi Bin Ahmad Fadli selaku ketua TPLU Malaysia.
Baca Juga: TNI Bantu Anak Sekolah Lintasi Sungai Mutis dengan Bergelantungan
Secara umum, pertemuan tersebut merupakan forum bilateral di antara TNI AU dan TIDM untuk memperkokoh kerja sama dalam bidang latihan. “Selain membahas kerja sama di bidang latihan, pendidikan dan exchange visit antara TNI AU dengan TUDM, pertemuan yang sama juga turut membahas potensi kerja sama militer lainnya, yaitu bidang siber,” tulis TNI AU dikutip Sabtu (10/8). (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































