HANKAM

Flypast hingga Sling Load, Aksi Pesawat dan Helikopter TNI AU di Upacara Kehormatan Militer

Pesawat tempur TNI AU
Pesawat tempur TNI AU melakukan manuver flypast pada Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer. (IDM/Muhammad Hidayat)

Jakarta, IDM – Sejumlah pesawat tempur, pesawat angkut, hingga helikopter TNI Angkatan Udara (TNI AU) dikerahkan dalam demo udara gabungan pada Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Pusdiklatpassus, Batujajar, Bandung, Minggu (11/8).

Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau) dalam siaran persnya yang dikutip Senin (11/8), unsur tempur meliputi pesawat F-16 Fighting Falcon dan T-50i Golden Eagle.

Pesawat angkut terdiri atas Boeing 737, C-130 Hercules, CN-295, Cassa NC-212i, sedangkan helikopter yang digunakan adalah NAS 332 Super Puma.

Baca Juga: Jumlah Satuan Kopassus Bertambah dari 3 Grup Menjadi 6 Grup, Ini Rinciannya

Unsur tempur TNI AU lepas landas dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan unsur angkut dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung.

“Seluruh unsur udara menampilkan manuver flypast, bomb burst pesawat tempur, serta penerjunan pasukan dan barang oleh pesawat angkut,” jelas Dispenau.

Pesawat Cassa 212
Pesawat Cassa 212 mendemonstrasikan penerjunan helibox pada Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer. (IDM/Muhammad Hidayat)

Pada momentum Istimewa tersebut, pesawat Cassa-212 mendemonstrasikan penerjunan helibox, kemasan logistik yang didesain sedemikian rupa, sehingga berbentuk blade dari propeller.

Baca Juga: KRI Brawijaya Tunjukkan Taji di Hadapan Kapal Perang Mesir

Saat dijatuhkan, helibox berputar seperti baling-baling dan akan memperlambat/mengurangi efek grafitasi bumi, sehingga impact/benturan pada pendaratan menjadi minimal.

Kemudian, pesawat C-130 Hercules melaksanakan penerjunan logistik dengan metode Low Cost Low Altitude (LCLA) dan Container Delivery System (CDS).

Helikopter NAS 332
Helikopter NAS 332 Super Puma melaksanakan sling load operation pada Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer. (IDM/Muhammad Hidayat)

LCLA merupakan metode airdrop atau penerjunan logistik dari pesawat udara pada ketinggian rendah untuk operasi di daerah terpencil.

Baca Juga: Aksi 15 Prajurit Udara Kopassus Pecahkan Rekor MURI

Sementara itu, CDS merupakan metode penyaluran logistik dari udara menggunakan pesawat angkut militer, di mana kargo (umumnya perbekalan, makanan, amunisi, atau peralatan) dikemas dalam kontainer khusus atau palet, kemudian dijatuhkan dengan parasut ke lokasi tujuan.

“Helikopter NAS 332 Super Puma turut melaksanakan sling load operation untuk memindahkan kendaraan taktis Maung ke medan yang sulit dijangkau,” jelas Dispenau.

Rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan implementasi nilai strategis TNI AU AMPUH (adaptif, modern, profesional, unggul, dan humanis), sekaligus menunjukkan kesiapan, modernisasi alutsista serta kemampuan adaptasi terhadap perkembangan situasi. (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.