HANKAM

Era Perang Lintas Dimensi, Asops KSAL: Prajurit Harus Peka Dinamika Global

Yayan Sofiyan dan Kaharuddin Djenot
Asops KSAL Laksamana Muda Yayan Sofiyan (kiri) menyerahkan cinderamata kepada Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenot (kanan) dalam acara diskusi Multidomain Warfare, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/1). Kegiatan ini digelar untuk mematangkan strategi pertahanan menghadapi dinamika geopolitik global. (Foto: Dok. TNI AL)

Jakarta, IDM – TNI AL terus mematangkan strategi menghadapi era perang modern yang kian kompleks. Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksamana Muda Yayan Sofiyan, mengingatkan jajarannya untuk selalu waspada terhadap perubahan situasi dunia yang sangat cepat.

Hal ini ditegaskan Yayan saat membuka focus group discussion di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/1), yang membahas era Multidomain Warfare atau perang lintas dimensi. Diskusi strategis ini diikuti sejumlah perwira TNI AL dan praktisi industri pertahanan.

Yayan menekankan, dinamika geopolitik global maupun regional saat ini menuntut kesiapan tinggi. TNI AL sebagai garda terdepan di laut tidak boleh lengah sedikitpun.

Baca Juga: Alasan TNI Alihkan Tank Boat Antasena dari AD ke AL

"TNI AL sebagai salah satu komponen utama pertahanan negara harus peka. Perubahan-perubahan situasi, baik global maupun regional, itu terjadi begitu cepat," kata Yayan dalam keterangannya, dikutip Rabu (21/1).

Jenderal bintang dua ini menegaskan, kesiapan ini bukan berarti Indonesia sedang dalam kondisi perang. Namun, prinsip dasar militer adalah kesiapsiagaan penuh dalam situasi apapun.

"Bukan berarti kita menghadapi perang saat ini juga. Namun, kapanpun dan di manapun TNI AL diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan negara, kita harus siap, baik itu untuk penegakan hukum maupun strategi diplomasi mendukung politik luar negeri pemerintah," tegasnya.

Dalam paparannya, Yayan juga menyoroti pentingnya sumber daya manusia yang tangguh di era perang lintas dimensi ini. Perang modern tak hanya soal fisik, tapi juga penguasaan teknologi.

"Seluruh prajurit TNI AL harus siap menghadapi kondisi apapun dalam mengawaki berbagai alutsista. Daya juang, profesionalitas, serta naluri tempur harus terus diasah, dibina, dan disiapkan dengan baik," ujar Yayan.

Baca Juga: Respons Krisis Air di Aceh, TNI AD Akan Bangun 105 Sumur Bor

Yayan menegaskan, diskusi ini digelar selaras dengan perintah KSAL Laksamana Muhammad Ali dan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap visi pertahanan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut Direktur Utama PT PAL Kaharuddin Djenot dan Dirtekinhan Kementerian Pertahanan Marsekal Pertama Dedy Laksmono.

Kolaborasi antara TNI, Kementerian Pertahanan, dan industri pertahanan ini diharapkan menghasilkan masukan konkret untuk mewujudkan sistem pertahanan negara yang andal dan disegani. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.