HANKAM

Enam Anggota OPM Ikrar Setia kepada NKRI, Salah Satunya Penyuplai Logistik

simpatisan OPM
Lima simpatisan OPM dari Kodap VIII/Intan Jaya menyatakan ikrar setia ke NKRI. (Foto: Dok. Pen Koops TNI Habema)

Jakarta, IDM – Enam anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) berikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ikrar itu dilaksanakan pada Minggu (6/9) dan Senin (7/9).

Lima simpatisan OPM dari Kodap VIII/Intan Jaya, antara lain JJ, PB, RS, NS, dan MS, berikrar setia kepada NKRI dalam seremoni yang digelar di Titik J2 Satgas Yonif 744/SYB, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Minggu (6/9).

Siaran pers Komando Operasi (Koops) TNI Habema menyatakan, kelima anggota OPM tersebut berlatar belakang pelajar, pengemudi ojek hingga pekerja mandiri.

Baca Juga: Peran Joint Operation Center Mendukung Keberhasilan Operasi Militer hingga Latihan Berskala Besar

“Sebelum mengambil keputusan tersebut, kelimanya sempat mengikuti proses komunikasi dan dialog persuasif setelah terindikasi melakukan interaksi dengan pimpinan TPNPB-OPM Kodap VIII/Intan Jaya,” kata Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna dalam keterangannya, Rabu (9/9).

Satu anggota OPM lain yang berikrar setia ke NKRI adalah Erison Murib alias Buton Murib (22) dari Kodap XXXIV/Beoga pimpinan Arodi Kulla. Ikrar dilaksanakan di Lapangan Koramil 1717-03/Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, Senin (7/9).

simpatisan OPM
Pentolan OPM Erison Murib ikrar setia ke NKRI. (Foto: Dok. Pen Koops TNI Habema)

Dalam keterangan Koops TNI Habema, Erison Murib berperan sebagai penyuplai logistik kelompok bersenjata dan terindikasi pernah terlibat dalam kerusuhan Julukoma 2019.

Baca Juga: TNI AD Terjunkan Satuan Tempur Bersihkan Debu Vulkanik di Jakarta

Rangkaian prosesi ikrar setia di kedua daerah dihadiri oleh jajaran Satgas Koops TNI Habema, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama serta masyarakat setempat.

“Sebagai simbol penanggalan masa lalu dan kebangkitan sebagai warga negara yang berdaulat, para mantan simpatisan dan anggota OPM tersebut dikenakan pakaian batik, menandatangani surat ikrar kesetiaan, mencium Bendera Merah Putih, serta diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat,” kata Wirya.

Wirya menekankan, Koops TNI Habema mengapresiasi keberanian para warga yang memilih jalan damai. Koops TNI Habema juga menegaskan bahwa pintu persaudaraan selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin meletakkan senjata.

Baca Juga: Lolos Jalur Rawan Laut Merah, Kapal Induk Garibaldi Transit di Sri Lanka

TNI juga berkomitmen untuk terus mengedepankan komunikasi sosial dan memprioritaskan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat Papua, sekaligus memastikan pengawalan terhadap proses pemulihan sosial para mantan anggota OPM di tengah lingkungan masyarakat.
 
“Keberhasilan ini mempertegas bahwa efektivitas strategi pendekatan teritorial dan dialog terbuka mampu meluluhkan dinamika keamanan di wilayah konflik,” tutur Wirya.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.