Dua Perwira Tinggi TNI Angkatan Udara Dimutasi dan Dirotasi

Jakarta, IDM – Sebanyak dua perwira tinggi (Pati) TNI Angkatan Udara (TNI AU) dirotasi dan dimutasi oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
Hal tersebut tercantum dalam Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/183/II/2025 tanggal 14 Februari 2025, tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Tentara Nasional Indonesia.
Baca Juga: TNI Gelar MBG di Perbatasan RI-RDTL, Dimasak dari Hasil Pertanian Sendiri
Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) dalam laman tni.mil.id dikutip Senin (17/2) menyebutkan, nama kedua Pati TNI AU tersebut adalah Marsda TNI Ferdik Kusuma Wahyudin, yang semula menjabat sebagai Dosen Tetap Unhan menjadi Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unhan.
Selanjutnya, Marsma TNI E. Soni Astaryadi akan menjadi Pati Mabes TNI AU (dalam rangka pensiun), setelah sebelumnya menjabat sebagai Dosen Tetap Unhan.
Baca Juga: Bakamla Tingkatkan Upaya Pengamanan Pelabuhan bersama Global Ports Safety
Dalam surat keputusan yang sama turut memuat daftar 31 nama Pati TNI Angkatan Darat (TNI AD) serta 19 Pati TNI Angkatan Laut (TNI AU) yang dimutasi dan dirotasi oleh Panglima TNI. Dengan demikian, totalnya sebanyak 52 perwira tinggi TNI. (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































