Dua Kepala Staf Angkatan Darat Bertemu, Indonesia-Australia Bahas Stabilitas Kawasan

Canberra (IDM) - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat Australia Letjen Simon Stuart di Markas Besar Angkatan Darat Australia, Russel Office, Canberra, Senin (10/10).
Usai disambut dengan Upacara Kehormatan Militer dan melakukan pemeriksaan pasukan, Dudung dan Simon melakukan pertemuan dan berdiskusi yang dihadiri oleh delegasi Angkatan Darat kedua negara tersebut.
Pada sesi diskusi tersebut, Dudung dan Simon sama-sama memiliki rasa optimis bahwa intensitas pertemuan dan komunikasi antara keduanya akan semakin meningkatkan kualitas kerja sama militer, baik yang sedang berjalan maupun di masa yang akan datang.
Dudung mengungkapkan arti penting kerja sama bilateral kedua Angkatan Darat yang berada di satu kawasan Asia-Pasifik.
"Kehadiran Angkatan Darat Indonesia dan Australia memegang peranan penting untuk stabilitas kawasan. Oleh karenanya perlu terjalin kerja sama yang semakin erat di bidang pendidikan dan latihan militer antara TNI AD dengan AD Australia," terang Dudung.
Simon berharap untuk meningkatkan kompleksitas latihan yang sudah berjalan agar semakin siap dalam menghadapi lingkungan strategis yang dinamis. (nhn)
Hankam

Jenazah Prajurit Korban Kecelakaan Helikopter Diberangkatkan ke Bandung dan Semarang
Dua prajurit TNI AD yang gugur saat tugas operasi pemadaman Karhutla di Seruyan diberangkatkan ke Bandung dan Semarang untuk dimakamkan secara militer.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































