Dua Kapal Perang Jepang Akan Berlabuh di Wilayah Lantamal VIII

Jakarta, IDM - Wakil Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Wadan Lantamal) VIII Kolonel (Mar) Mikaryo Widodo bersama Atase Pertahanan (Athan) Jepang Kapten Mizuno Hidenori, membahas rencana kedatangan dua kapal Jepang ke Indonesia.
Dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, Kamis (23/2), hal tersebut dilakukan saat Mikaryo menerima courtesy call Mizuno di Markas Komando Lantamal VIII, Paal Dua, Manado, Sulawesi Utara, Rabu kemarin.
Mikaryo dan Mizuno dalam pertemuan tersebut menyusun rencana garis besar kedatangan dua kapal perang yang bernama JS Shimakaze dan JS Asagiri. Rencanannya, kedua kapal perang Jepang itu akan akan sandar di Pelabuhan Bitung.
Baca: Sukses Evakuasi Kapolda Jambi, Kapolri Apresiasi Kru Pesawat H-3211 dan Tim SAR Kopasgat TNI AU
Dalam kesempatan tersebut, juga dibahas rencana kegiatan selama kapal sandar di dermaga dan para pejabat yang akan terlibat dalam pelaksanaan penyambutan kedua kapal perang Jepang.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Pejabat Utama Lantamal VIII, Dansatrol Lantamal VIII serta perwakilan PT Trias Tanjung Rezeki. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































