TEKNOLOGI

Drone Harpia Jadi Kandidat Alutsista Pengintai untuk TNI AD

Drone Harpia
Drone Harpia (Foto: ADTECH)

Jakarta, IDM – Drone Harpia buatan perusahaan pertahanan Brazil, Advanced Technologies Security & Defense (ADTECH) jadi kandidat kuat alutsista untuk TNI AD.

Hal ini dipastikan saat kunjungan delegasi TNI AD ke ADTECH, Brazil yang dipimpin Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Danpussenarmed), Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo beberapa waktu lalu.

"Drone Harpia menjadi salah satu kandidat wahana udara tanpa awak (UAV) taktis masa depan yang cocok digunakan untuk pengintaian, penyesuaian tembakan artileri, serta operasi khusus modern TNI AD," bunyi keterangan Pussenarmed, dikutip Selasa (15/7).

Baca Juga: Lanud ZAM Kerahkan Satu Peleton untuk Evakuasi Warga Terdampak Banjir di Mataram

Dilansir dari laman resmi ADTECH dijelaskan Drone Harpia dapat digunakan untuk pemantauan jarak jauh, pengawasan wilayah yang didominasi oleh kelompok kriminal, pemantauan hutan dan lingkungan untuk mencegah kebakaran hutan, perampasan lahan, dan deforestasi.

Harpia juga dapat digunakan untuk patroli perbatasan guna mencegah penyelundupan, serta operasi pencarian dan penyelamatan berkat kemampuannya mendeteksi ponsel berdasarkan koordinatnya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pendaratan Harpia dilakukan dengan parasut dan kantung udara yang diaktifkan ketika UAV mencapai ketinggian ideal. Hal ini menghasilkan pendaratan yang sempurna dan aman di area yang ditentukan.

Baca Juga: Poltekad TNI AD Ciptakan Water Treatment, Solusi Air Minum Praktis untuk Prajurit di Medan Operasi

Kehebatan lain dari Harpia adalah bisa diakses melalui tautan seluler, sehingga operator dapat mengakses data pemantauan dari jarak jauh. Dan sistem perakitannya mudah sehingga memungkinkan adaptasi dan penggunaan di kendaraan, kapal, atau bahkan dioperasikan oleh operator dengan berjalan kaki.

Modul pelacakan seluler dan radio (SIGINT) Harpia dapat dilengkapi dengan sistem deteksi otomatis emisi sinyal radio UHF/VHF dengan presisi tinggi, serta identifikasi sinyal seluler 2G, 3G, dan 4G dalam interval waktu singkat.

Sistem identifikasi ini sangat berguna dalam kejadian bencana alam atau operasi penyelamatan, di mana sinyal dari objek pemancar dapat dideteksi untuk menemukan korban. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.