HANKAM

Ditempa Latihan Fisik hingga Mengenal Karakteristik Payung Udara

Muhammad Fadlan
Personel Divisi Infanteri 2/Kostrad, Sersan Dua (Serda) Muhammad Fadlan memberikan instruksi melipat payung udara kepada peserta Latihan Terjun Para Dasar Mandiri. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Jakarta, IDM – Bagi pelatih Sersan Mayor (Serma) Andreas Dedi Cahyono, kesiapan fisik peterjun harus prima saat memulai terjun perdana. Karena itu, 320 prajurit sudah ditempa sejak awal kedatangannya.

“Alokasi waktu penyelenggaraan terjun ini 24 hari. Jadi sejak kedatangan para prajurit ini, dua minggu awal latihan fisik. Mulai bangun tidur, beribadah, kemudian lari, sampai dengan tidur kembali. Itu terus dilakukan berulang sampai sekitar 2 minggu,” kata Andreas yang berdinas di Yonif 503/ Mayangkara ini.

Setelah itu, materi pelatihan berikutnya diterapkan. Materi ini untuk menunjang penerjunan mereka nanti. “Semuanya dilakukan bertahap. Mulai dari lari, kemudian mereka mulai mengenal ketinggian, lalu mengenal beberapa alat-alat penerjunan seperti tower dan kipas pendarat. Alat-alat ini disimulasikan seperti keluar dari pintu pesawat tapi pakai bantuan alat, diturunkan pelatih tapi dalam ketinggian yang masih standar,” jelas Andreas, pelatih bertitel Jumpmaster ini.

Ia mengatakan dalam simulasi ini, secara bertahap para prajurit diwajibkan melompat, mulai dari ketinggian 1 meter dan puncaknya sampai 15 meter dengan menggunakan payung cadangan. Hal ini kembali dilakukan berulang-ulang hingga dirasa para peterjun ini sudah benar-benar menguasai materinya.

“Tiga hari terakhir penutupan materi biasanya dialokasikan waktu untuk mereka mengingat semua. Mulai dari cara penggunaan payung hingga mendarat. Semua diaplikasikan sekitar tiga hari, diulang terus. Dirasa para prajurit mampu mengaplikasikan penerjunan, baru tahap penerjunan diterapkan,” kata Andreas.

Baca Juga: Terjun Perdana Divisi Infanteri 2 Kostrad: Jejak Keberanian Para Prajurit

Teknik Terjun yang Baik dan Benar

Andreas mengatakan bagi peterjun setiap detik di udara sangat berharga. Karena hal ini, ia selalu menekankan teknik yang baik dan benar saat terjun. Ia menjelaskan bahwa terjun para dasar bagi prajurit TNI biasanya sekitar 1.500 kaki (sekitar 457 meter). Jadi sejak keluar dari pesawat, teknik yang benar adalah posisi kepala, kaki dan tangan dalam keadaan rapat. Setelah itu, sekitar lima detik payung otomatis akan mengembang, hal ini biasanya ditandai dengan tarikan di kepala karena hentakan payung.

“Kemudian setelah dirasa payung mengembang sempurna, mereka (para peterjun) harus mencari arah angin. Jadi apabila angin dari arah belakang mereka harus balik, angin itu harus berlawanan dengan tujuan dia mendarat pelan. Jika dia mengikuti angin satu arah, dia akan rawan cedera di saat mendarat,” kata Andreas.

Andreas
Pelatih Latihan Terjun Para Dasar Mandiri Divisi Infanteri 2/Kostrad, Sersan Mayor (Serma) Andreas Dedi Cahyono. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Lalu bagaimana jika payung tidak mengembang sempurna? Andreas menyebut prajurit harus sigap membuka payung cadangan dalam hitungan detik, karena kalau terlambat hal fatal bisa terjadi.

“Jadi sejak keluar pesawat mereka hitung 5 detik, kalau benar-benar ada trouble payung tidak mengembang, tidak usah ragu-ragu langsung cabut payung cadangan yang ada di bagian depan perut peterjun. Yang jelas di saat dia mengalami trouble akan berbeda sendiri dengan temannya, temannya mengembang sempurna lambat tapi dia pasti langsung kencang. Di situ selalu kita ingatkan saat latihan: trouble, trouble, trouble, payung kuncup, payung kuncup, dia harus cepat sadar,” kata Andreas.

Kemudian terkait teknik pendaratan, Andreas menyebut posisi kaki dan tangan juga dalam keadaan rapat menempel di tubuh. Hal ini untuk mengantisipasi benturan saat pendaratan.

Baca Juga: Penanggulangan Bencana dalam Negeri hingga Penugasan Internasional

“Kalau posisi kakinya terbuka rawan insiden seperti retak kaki. Nah ini posisi jatuhnya harus kaki terlebih dahulu dalam keadaan rapat,” tegas Andreas.

Ia mengatakan dalam latihan, ada namanya lima titik pendaratan yang wajib jadi tumpuan, mulai yang pertama pisau kaki (sisi luar telapak kaki), kemudian betis kaki bagian luar, pinggul bagian luar, punggung bagian luar dan terakhir bahu bagian luar.

“Jadi lima titik ini jadi tumpuan, disesuaikan saja harus didahulukan yang mana, jangan area tubuh yang lain,” tutup Andreas.

Payung Udara adalah Nyawanya Prajurit Lintas Udara

Berbeda dengan Serma Andreas, Sersan Dua (Serda) Muhammad Fadlan punya andil besar dalam keselamatan peterjun. Bersama-sama dengan 20 pelatih lainnya mereka wajib mengajar detail payung kepada 320 peterjun ini.

“Kami melatih para siswa ini (peterjun) bagaimana cara melipat payung udara yang benar maupun cara penggunaan payung udara. Semua detail dilakukan berulang-ulang hingga mereka bisa mengenali karakteristik payung itu sendiri,” kata Fadlan.

Baca Juga: Cerita Letda Inf Joko dan Prada Abraham Pertama Kali Terjun Tempur

Pria yang menjabat sebagai Baton Perbekalan dan Angkutan (Perbekut) Yon Bekang 2 Kostrad ini menjelaskan teknik yang mereka ajarkan adalah dari fase per fase. Mulai dari bagaimana melipat payung hingga memasukkan ke dalam tas payung. Jika ada kesalah an, diulang kembali hingga benar.

“Kami dari Perbekut pasti mengajarkan ke siswa dari tahap pertama sampai mereka sudah mampu untuk melipat sendiri. Jadi kami latih sehingga payung yang dia gunakan untuk terjun, ya dia yang harus melipat sendiri,” kata Fadlan.

Menurut Fadlan, payung udara itu sebagai nyawanya prajurit Lintas Udara. Karena payung itu sebagai transportasi para peterjun saat melaksanakan kegiatan, misalnya jika melakukan serbuan lintas udara. “Karena pasukan harus bergerak dengan cepat untuk ada di tempat sasaran, jadi harus melaksanakan kegiatan lintas udara. Jadi bisa dikatakan payung udara adalah nyawa bagi setiap peterjun,” kata Fadlan.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.