HANKAM

Dirut PAL Sebut USV Kamikaze Berpotensi Membangun Kemampuan Teknologi Dalam Negeri

Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze.
Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze. (Foto: Dok. Humas PT PAL Indonesia)

Jakarta, IDM – Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze tampil perdana dalam Latihan Terintegrasi TNI 2026 di Dabo Singkep, Riau, pada awal Agustus lalu.

Produk buatan PT PAL Indonesia ini muncul dalam skenario swarm formation dengan membawa hulu ledak 150 kilogram dan berhasil menghantam sasaran.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan USV Kamikaze menjadi tanda bahwa industri pertahanan nasional mampu mengembangkan produk inovatif dalam mendukung penguatan alat utama sistem senjata TNI AL.

Baca Juga: Menhan Sjafrie Keluarkan Permenhan Penyusunan Banglistra Ancaman Pertahanan Negara

“Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri,” Kata Djenod, Jumat (14/8).

Ia menilai, dari proses pengembangan USV tidak hanya menghasilkan wahana tanpa awak saja, tetapi juga bagian dari penguasaan teknologi di dalam negeri.

“Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” jelas Djenod.

Baca Juga: TNI AD akan Bangun Pabrik Pirolisis di Sejumlah TPA Sampah

Teknologi nirawak, menurutnya, membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.

“Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Pengembangan USV ini juga memiliki potensi untuk memperkuat ekosistem industri nasional. Pasalnya, penguasaan teknologinya mencakup peningkatan kompetensi SDM, serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.

Baca Juga: TNI AD Ingatkan Pentingnya Bela Negara di Ruang Digital untuk Generasi Muda

Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

“Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin

Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Kapal permukaan tanpa awak berkecepatan hingga 55 knot ini memiliki kemampuan intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR).

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.