Dikritik Netizen, Marinir Buka Suara Soal Latsarmil Manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan

Jakarta, IDM – Korps Marinir angkat bicara mengenai polemik di media sosial terkait urgensi latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih. Sejumlah pihak menilai pelatihan semi-militer tersebut tidak berkesinambungan dengan bidang kerja para peserta di lapangan.
Komandan Batalion Latihan Brigif 1 Marinir Letkol (Mar) Agus Mutaqin menyatakan, latihan ini bukan untuk militerisasi sipil, melainkan sebuah instrumen pembentukan karakter dasar. Aspek kedisiplinan, moralitas, integritas, dan loyalitas menjadi poin utama yang ditanamkan kepada para peserta sebelum menduduki jabatan strategis.
"Karakter itulah yang harus kita bangun. Supaya dengan dasar-dasar moral yang kita bangun ini, integritas, loyalitas, kedisiplinan, kekompakan, empati, mereka akan terbawa saat nanti di penugasan baru," ujar Agus di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6).
Baca Juga: Sinergi TNI AD dan Kementerian ESDM Lumpuhkan Sindikat Kakap Tambang Ilegal, 25 Orang jadi Tersangka
Agus menjelaskan, keterlibatan TNI dalam program ini sebatas pada fase pembentukan watak dan ketangkasan fisik. Saat ini, sebanyak 674 siswa yang terbagi dalam empat kompi tengah menjalani penggemblengan fisik, baris-berbaris, hingga pengenalan kompas dan peta di Cilandak. Pada minggu ketiga nanti, ratusan peserta sipil ini dijadwalkan akan menerima materi kemampuan dasar militer berupa latihan menembak perorangan.

Setelah fase latihan usai, para calon manajer tersebut akan langsung menerima materi manajerial khusus dari instansi sipil pada 17–30 Juli mendatang. Kurikulum lanjutan tersebut akan diisi oleh jajaran instruktur dari Kementerian Koperasi serta Dinas Pertanian yang memiliki kapabilitas di bidang tata kelola ekonomi dan ketahanan pangan. Pihak Marinir memastikan tidak akan mencampuri substansi materi bisnis tersebut dan hanya berfokus pada pengawasan fasilitas belajar-mengajar di lingkungan pangkalan.
Langkah Pasmar 1 Marinir menyisipkan kurikulum ekonomi sipil ini sekaligus memangkas durasi pelatihan secara drastis dari pakem biasanya. Jika gelombang komponen cadangan (komcad) terdahulu wajib menghabiskan waktu penuh selama tiga bulan, angkatan baru manajer koperasi dan kampung nelayan ini hanya menjalani latihan selama satu setengah bulan. Pemotongan waktu yang signifikan ini sengaja menyasar penguatan sektor manajerial yang lebih spesifik agar lulusan memiliki bekal ekonomi yang kuat saat kembali ke masyarakat.
Baca Juga: Lulus Seskoau A-64, Puluhan Perwira Disiapkan jadi Calon Pemimpin TNI AU yang Adaptif
Agenda kilat di internal Marinir tersebut berjalan searah dengan proyeksi besar Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dalam memperkuat fondasi ekonomi akar rumput. Secara nasional, Kemhan membidik total 35.476 orang peserta yang mencakup 30.000 calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Melalui kombinasi latihan fisik militer dan kompetensi bidang ekonomi, pemerintah mengintegrasikan puluhan ribu pengelola komoditas lokal ke dalam sistem pertahanan negara. Hal ini bertujuan mengamankan rantai pasok pangan dan memperkuat stabilitas ekonomi maritim domestik dari ancaman krisis global.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































