Dari Kunjungan Menhan hingga Mendagri, Ini Peran Alutsista TNI AU Buka Konektivitas di Wilayah Perbatasan

Jakarta, IDM - TNI Angkatan Udara melalui Pangkalan TNI AU (Lanud) Anang Busra kembali berperan dalam membuka konektivitas di wilayah perbatasan dan terpencil.
Terbaru, melalui angkutan udara berupa alat utama sistem persenjataan (alutsista) helikopter Caracal EC-725/H225M H-2210, Lanud Anang Busra mendukung mobilisasi Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin saat kunjungan ke Kalimantan Utara, pada 2-3 Oktober 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Menhan Sjafrie yang didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI Letnan Jenderal TNI Tri Budi Utomo dan Kepala Badan Logistik Pertahanan (Kabaloghan) Kemhan RI Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari, meninjau Batalion Infanteri (Yonif) TP 880/Benuanta di Kabupaten Bulungan, Yonif TP 881/Bratama Dharma di Kabupaten Nunukan, Yonif TP 921/Intimung di Kabupaten Malinau, dan Yonif TP 922/Upun Taka di Kabupaten Tana Tidung sambil melaksanakan audiensi dengan Bupati Malinau Wempi W. Mawa dan Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan.
“Hasil audiensi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah pusat, khususnya terkait keterbatasan akses pangan, bahan bakar, transportasi, distribusi logistik, serta konektivitas jalur darat,” tulis siaran pers Lanud Anang Busra, Kamis (8/10).
Baca Juga: Rudal Exocet SM39 Kapal Selam Scorpene TNI AL Diprediksi Final Awal 2027
Sebagai tindak lanjut kunjungan Menhan RI, pemerintah kemudian mengutus Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Tito Karnavian untuk berkunjung dan melihat langsung kondisi lapangan di ruas jalan Semamu Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau dan meninjau jalan provinsi dan jembatan di Desa Long Katung, jalan nasional di Desa Kampung Baru, serta calon lahan pos lintas batas negara (PLBN) di Desa Long Midang, Krayan, Kabupaten Nunukan, pada Rabu (7/10).
Dalam kunjungan itu, Mendagri Tito beserta jajaran didampingi perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), dan Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang.

Rombongan Mendagri menggunakan pesawat TNI AU Falcon 8X/A-0804 yang dipiloti Letkol (Pnb) Mulyo. Sementara itu, pergerakan menuju wilayah yang memiliki keterbatasan akses darat digunakan helikopter TNI AU Caracal EC-725/H225M H-2210 yang dipiloti Kapten (Pnb) Brian.
Peninjauan itu menemukan sejumlah ruas jalan yang masih rusak parah dan belum tersambung sepenuhnya. Di kawasan perbatasan Malinau dan Krayan Nunukan, akses darat masih berupa jalan tanah dan terputus di beberapa titik, sedangkan akses sungai sangat bergantung pada kondisi debit air.
Baca Juga: Rotasi dan Mutasi TNI: Letjen Iwan Setiawan Pangkostrad, Letjen Tri Budi Utomo jadi Wakasad
Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu tantangan dalam membuka konektivitas antarkawasan. Salah satu jalur strategis yang menjadi perhatian adalah Lingkar Krayan yang menghubungkan kawasan perbatasan melalui PLBN Long Midang/Krayan, Labang, Sei Pancang hingga Long Nawang, sekaligus menghubungkan Malinau, Long Pujungan hingga Long Kemuat.
“Sementara itu, Jalan Apau Kayan sepanjang 177,32 kilometer hanya berfungsi saat kemarau. Sekitar 120,9 km masih berupa tanah dan 29 km berupa agregat, sehingga pada musim hujan jalan menjadi licin, berlumpur, dan sangat sulit dilalui kendaraan. Sejumlah ruas utama yang telah tembus antara lain Mensalong-Tao Lumbis serta Long Pujungan-Malinau sepanjang 27,05 km dan 25 km,” tulis siaran pers Lanud Anang Busra.
Hasil peninjauan itu kemudian akan ditindaklanjuti oleh pemerintah, dengan membuka konektivitas, di antaranya pembangunan jalan nasional Krayan-Malinau dan PLBN Long Midang di Desa Long Midang, Kecamatan Krayan.
Pemerintah pusat juga akan membangun bendungan dan irigasi untuk mendukung sektor pertanian masyarakat.
Komandan Lanud Anang Busra Marsma TNI Andreas A. Dhewo mengapresiasi kunjungan Menhan dan Mendagri RI beserta rombongan ke wilayah perbatasan Kaltara.
Baca Juga: Mengapa TNI AL Ditawari Rudal SM39 Ketimbang SM40 Jangkauan 120 Km Buat Scorpene?
Menurut Andreas, kehadiran langsung pemerintah pusat melihat kondisi nyata lapangan akan menghasilkan data yang akurat tentang kebutuhan masyarakat perbatasan terpencil.
“Ini menunjukkan bahwa negara hadir, sekaligus menjadi momentum memperkuat sinergi dalam mengatasi keterbatasan akses masyarakat memperoleh kebutuhan pokok sehari-hari. Lanud Anang Busra sebagai kepanjangan tangan Markas Besar TNI AU, siap mendukung agenda pemerintah pusat membuka konektivitas bagi masyarakat perbatasan dan terpencil, termasuk penggunaan alpalhankam yang dimiliki oleh TNI AU,” kata Andreas.
Andreas mengatakan, TNI AU telah berperan penting dalam membuka akses udara bagi masyarakat di wilayah perbatasan dan terpencil Krayan sejak lama.
Sejak 2009, pesawat Casa TNI AU melayani rute Tarakan-Krayan/Long Bawan untuk mengangkut penumpang sekaligus mendukung distribusi kebutuhan pokok dan logistik masyarakat. Memasuki Maret 2026, dukungan tersebut diperkuat melalui pengoperasian pesawat CN-295 yang meningkatkan kapasitas angkutan udara menuju wilayah perbatasan.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































