Cerita Satgas Konga yang Bertugas di Kongo, Diganggu Milisi hingga Dipanggil “Papa Indo”

Jakarta, IDM – Satuan Tugas Kizi TNI Kontingen Garuda (Konga) XX-U Misi Stabilisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Demokratik Kongo (Monusco) selesai mengemban misi perdamaian di bawah bendera PBB.
Pasukan yang dipimpin Komandan Satgas Letkol (Czi) Dili Eko Setyawan itu menjalankan misi perdamaian sejak 24 April 2024, dan kembali ke tanah air pada 21 Juni 2025.
Inspektur Jenderal (Irjen) TNI Letjen Muhammad Saleh Mustafa memimpin upacara penyambutan Satgas Konga XX-U Monusco di Lapangan Plaza Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (10/7).
Baca Juga: Indonesia dan Brasil Bakal Kerja Sama Kembangkan Rudal dan Kapal Selam
Satgas Kizi TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda ke-24, yang terdiri dari 173 personel, telah melaksanakan berbagai tugas teknis zeni, antara lain penyelidikan zeni; rehabilitasi rute utama; dan infrastruktur bandara.
“Pembangunan fasilitas penunjang dan sistem drainase, konstruksi banker, pos jaga hingga jembatan darurat, dan berbagai tugas lain atas permintaan dari the Force Headquarters for Monusco,” kata Saleh Mustafa, mewakili Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Penghargaan dari Force Commander Monusco, FIB Commander, dan Chief Force Engineer juga diterima oleh satgas.
Cerita Satgas di Wilayah Konflik
Dansatgas Letkol (Czi) Dili Eko Setyawan menceritakan pengalaman pasukannya selama di Kongo, yang merupakan wilayah konflik.
“Memang di sana sedang terjadi konflik, terutama karena adanya milisi atau kelompok-kelompok bersenjata yang ada di wilayah tersebut. Jadi banyak sekali milisi di sana, mereka memperebutkan wilayah maupun juga sumber daya alam,” kata Eko seusai upacara penyambutan.

Ia menyebutkan, pasukannya juga pernah diganggu selama beraktivitas di kamp. “Jadi mereka (milisi) mengganggu di luar kamp sehingga kami harus bersiaga,” ucap Eko.
Baca Juga: Panglima TNI: Pengajuan Pensiun Dini Mayjen Ahmad Rizal akan Diproses Cepat
Jika ada gangguan tersebut, pasukan quick reaction force (QRF) yang akan mengatasi.
“Kalau kami sebagai pasukan support engineering. Jadi di sana ada beberapa kontingen dengan tugasnya masing-masing,” lanjut dia.
Selain membangun lapangan sepak bola dan memelihara bandara, satgas juga melakukan pendekatan ke masyarakat. Eko mengatakan bahwa Satgas Konga XX-U Monusco disambut baik oleh masyarakat setempat.

Satgas juga menggelar kegiatan positif bersama para pemuda setempat. “Karena pemudanya sangat rentan untuk direkrut oleh milisi-milisi di sana,” tutur Eko.
Ia melanjutkan, banyak anak kecil yang menjadi korban konflik di Kongo. Anak-anak tersebut menyambut baik dan sering menghampiri Satgas Konga XX-U Monusco.
Baca Juga: Keterlibatan TNI Dalam Proses Swasembada Gula Nasional
“Mereka selalu datang beramai-ramai, kemudian langsung menyebut, ‘Papa Indo, Papa Indo’. Jadi itu sebutan mereka kepada kami dan teman-teman kami, karena biasanya kami sering membawa makanan kecil, biskuit, dan sebagainya, yang membuat mereka senang dengan kehadiran kami,” ungkap Eko.
Dalam berkomunikasi, satgas menggunakan bahasa Prancis dan Swahili. Terkadang, satgas juga mengajari masyarakat setempat menggunakan bahasa Indonesia.
Satgas Konga XX-U Monusco tergabung dengan pasukan dari negara lain seperti Kenya, Nepal, dari Tanzania, Bangladesh, hingga Afrika Selatan selama penugasan. “Dan juga beberapa negara lain yang mengirimkan perwakilannya, baik sebagai perwakilan perseorangan maupun kontingen,” tutup Eko. (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































