HANKAM

Cegah Cacat Sistem di Dalam Negeri, Kapal Selam Scorpene TNI AL Diuji Ketat di Prancis

Scorpene Evolved
Scorpene Evolved. (Foto: Dok. Naval Group)

Toulon, IDM - Pabrikan pertahanan asal Prancis, Naval Group, menerapkan standar pengujian tanpa cacat (zero-defect) pada sistem tempur kapal selam Scorpene Evolved pesanan pemerintah Indonesia. Seluruh perangkat komputasi wajib lolos uji fungsi total di fasilitas pabrik sebelum dikirim untuk digunakan TNI AL.

Direktur Pemasaran Operasional untuk Kapal Selam Naval Group, Thierry Petit, menjelaskan proses perancangan sistem pertahanan bawah air ini sengaja dibangun dengan jadwal yang fleksibel. Tenggat waktu tersebut memberi ruang bagi Indonesia untuk merumuskan konfigurasi persenjataan serta sensor yang sesuai dengan kebutuhan perairan tanah air.

"Sistem manajemen tempur kapal selam Scorpene untuk Indonesia saat ini masih melalui tahapan integrasi dan evolusi," kata Thierry saat memaparkan program kapal selam di fasilitas Naval Group, Toulon, Prancis, Selasa (6/10).

Baca Juga: Masih Tahap Pengembangan, TNI AL Punya Waktu Sesuaikan Sistem Senjata Kapal Selam Scorpene

Thierry menyebut fleksibilitas pengembangan itu juga membuka jalan bagi penyematan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dalam ruang komando. Fitur ini bekerja sebagai asisten otomatis bagi awak kapal untuk mengolah data sonar, mengenali kontak kawan atau lawan, hingga menghitung kalkulasi serangan. Meski dibantu AI, keputusan penembakan tetap berada di tangan prajurit TNI AL (human-in-the-loop).

"Kami memastikan seluruh sistem pengendali itu bisa disesuaikan dengan preferensi serta kebutuhan spesifik setiap negara pengguna, termasuk Indonesia," ujarnya.

Integrasi kecerdasan buatan tersebut melengkapi arsitektur dasar atau Submarine Tactical Integrated Combat System (SUBTICS) garapan Naval Group. Direktur Pengembangan dan Promosi Kapal dan Sistem Permukaan Naval Group, Michael Vaxelaire, memaparkan kerangka digital terpadu ini menyatukan pasokan data dari seluruh sensor kapal ke dalam satu layar kendali.

Baca Juga: Kapal Selam Scorpene TNI AL Dibekali AI, Proyeksikan Solusi Tempur Cepat

"Seluruh sensor mulai dari sonar hingga sistem pencegat elektronik melebur ke dalam satu kesatuan sistem taktis guna memangkas waktu reaksi komandan di ruang kendali," jelas Michael.

Michael menegaskan seluruh unit komputasi dan perangkat lunak tersebut harus mengantongi status bebas cacat di pabrikan Prancis. Langkah ini krusial untuk mencegah potensi gangguan teknis (bug) maupun kerumitan logistik perbaikan saat alutsista tersebut dikirim dan beroperasi di Indonesia.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.