HANKAM

Bukan Sembarang Prajurit! Ini Syarat 500 Pengawak Kapal Induk Garibaldi

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi (Foto: Dok. X @Defence_IDA)

Jakarta, IDM – TNI AL mulai mematangkan persiapan untuk mengawaki kapal induk Giuseppe Garibaldi. Setidaknya, 500 prajurit pilihan disiapkan untuk mengoperasikan kapal perang asal Italia tersebut.

Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksamana Muda Yayan Sofiyan, menegaskan kualifikasi personel menjadi kunci utama. Pasalnya, mengoperasikan kapal induk seberat 13 ribu ton membutuhkan keahlian di atas rata-rata kapal perang biasa.

"Personelnya itu ada sekitar 500 pelaut yang harus mengawaki. Dari mulai sekarang sampai level perwiranya harus memiliki kompetensi-kompetensi khusus sebagai pengawak kapal induk," ujar Yayan dalam diskusi Semar Sentinel, Jakarta, Rabu (25/2).

Baca Juga: OPM Bakar Dua Orang di Nabire, Satu Anggota TNI AD

Perwira dengan Keahlian Khusus

TNI AL menetapkan standar tinggi, terutama bagi jajaran perwira. Persiapan ini mencakup penguasaan teknologi aviasi atau penerbangan dan sistem tempur yang terintegrasi.

Sebab, Garibaldi bukan sekadar alat angkut, melainkan pangkalan udara terapung yang diprediksi bakal mengusung teknologi wahana udara nirawak (drone).

"Kru inti itu hanya 500, belum termasuk kru untuk penerbangan, sistem aviation, dan sebagainya. Pentahapan ini sedang kita persiapkan dengan baik," tambah Yayan.

Baca Juga: 14.200 Personel TNI AD Berkumpul di Bandung, Ada Apa?

Target Tiba Sebelum HUT TNI 2026

Langkah konkret penyiapan sumber daya manusia (SDM) ini berkejaran dengan target kedatangan kapal. Sebelumnya, KSAL Laksamana Muhammad Ali berharap kapal induk ringan ini sudah bersandar di Tanah Air sebelum peringatan HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026 mendatang.

Saat ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) terus mematangkan proses hibah G2G (government to government) dengan Italia. Meski berstatus hibah, pemerintah sudah menyiapkan anggaran khusus untuk proses retrofit atau peremajaan kapal agar sesuai dengan kebutuhan operasi TNI AL.

Baca Juga: TNI AD Kebut Pembangunan Jembatan Gantung yang Sambungkan 4 Desa di Aceh Tengah

Jadi Instrumen Diplomasi

Kehadiran 500 prajurit pengawak Garibaldi ini nantinya bukan untuk misi invasi. TNI AL memproyeksikan kapal ini sebagai instrumen diplomasi maritim dan misi kemanusiaan.

Selain itu, pengadaan ini menjadi lompatan besar bagi TNI AL untuk bertransformasi dari green water navy menuju kekuatan blue water navy, yakni angkatan laut yang dapat beroperasi lintas samudra dan secara global.

"Sehingga akuisisi pemerintah kapan pun terhadap Garibaldi tersebut, mudah-mudahan dapat kita saksikan segera. Memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi kita," pungkas Yayan. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.