HANKAM

Bukan Cuma Disiplin Baja, Komandan Kapal Perang Kini Dituntut Paham Psikologi Modern

KRI Brawijaya-320.
KRI Brawijaya-320. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Jakarta, IDM – Komando Armada (Koarmada) II mulai merombak pola pembinaan di dalam kapal perang. Komandan kapal perang RI (KRI) kini menghadapi tantangan baru untuk mengawak pasukan generasi masa kini.

Tantangan kepemimpinan ini menjadi ulasan penting dalam forum komandan KRI jajaran Koarmada II di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/6). Komandan Gugus Keamanan Laut (Danguskamla) Koarmada II Laksma TNI Edy Setyawan membuka langsung pertemuan perwira tersebut.

Saat membacakan amanat Panglima Koarmada II Laksda TNI I Gung Putu Alit Jaya, Edy menegaskan komandan kapal merupakan ujung tombak pembentuk karakter prajurit. Aturan baku seperti Sapta Marga tetap menjadi dasar, namun penerapannya harus menyesuaikan perkembangan teknologi.

Baca Juga: Aksi Heroik Prajurit TNI AD: Sergap Penyandera dari Belakang, Balita 3 Tahun Selamat!

"Komandan KRI sebagai pemimpin di unsur terdepan memiliki peran yang sangat strategis dalam membina moral, mental, dan karakter prajurit. Nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, serta tradisi keprajuritan harus tetap menjadi fondasi utama yang dipadukan dengan pendekatan pembinaan yang relevan terhadap perkembangan teknologi dan karakter generasi prajurit saat ini," ujar Edy, dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, Kamis (2/7).

Redam Tekanan Tugas Era Digital

Pimpinan Koarmada II meminta para komandan KRI mulai memanfaatkan ilmu psikologi modern saat membina anak buah. Pola ini berguna untuk membangun resiliensi atau ketangguhan mental prajurit agar tidak mudah stres menghadapi beban kerja di era digital.

Selain ketahanan mental, para perwira juga harus memberikan keteladanan lewat komunikasi dua arah. Hubungan yang baik antara atasan dan bawahan bakal menciptakan lingkungan kerja yang sehat sekaligus menjaga kekompakan tim selama berlayar.

Pola humanis ini menjadi target Koarmada II untuk mencetak prajurit TNI AL yang adaptif di lapangan. Personel yang sehat secara psikologis akan membuat operasional kapal perang lebih optimal dalam menjaga keamanan laut Indonesia.

Baca Juga: Saat Prajurit Marinir Ajari Militer Asing Cara Bertahan Hidup Tanpa Logistik

Uji Tempur Jarak Jauh

Sebelum menggelar forum diskusi, Koarmada II sudah menguji kesiapan tempur dan kemampuan konseptual para komandan kapal lewat ujian tertulis dalam agenda Bulan Profesi 2026, di Surabaya.

Ujian kompetensi ini berjalan secara terpadu melalui konferensi video. Sistem jarak jauh tersebut menghubungkan langsung seluruh komandan KRI di bawah jajaran Koarmada RI untuk mengukur kesiapan perwira sebelum memimpin tugas di lautan.

Evaluasi berkala ini menjadi instrumen Koarmada II dalam menyaring para pemimpin kapal yang cakap serta berintegritas.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.