HANKAM

Boeing Akhiri Proses Penjualan Jet Tempur F-15 untuk Indonesia, Kemhan Beri Penjelasan

Prabowo Subianto
Boeing dan Indonesia saat menandatangani pembelian jet tempur F-15EX pada 2023. (Foto: Dok. Biro Infohan Kemhan RI)

Jakarta, IDM – Pabrikan pesawat asal Amerika Serikat, Boeing mengakhiri proses penjualan jet tempur F-15 untuk Indonesia. Hal ini dikonfirmasi oleh Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Strategi Boeing Defense, Space, and Security Bernd Peters.

“Saya akan memberitahu Anda bahwa ini (perjanjian dengan Indonesia) tidak lagi kampanye aktif bagi Boeing,” kata Peters kepada awak media dalam acara Singapore Airshow, Selasa (3/2) waktu setempat.

Indonesia mulai penjajakan pembelian pesawat tempur F-15 sejak 2021, atau saat Presiden RI Prabowo Subianto masih menjabat Menteri Pertahanan.

Baca Juga: TNI AD Wajibkan Pati dan Danyon Uji Kemampuan Jasmani dan Militer

Dua tahun kemudian, Prabowo mengunjungi pabrikan Boeing di St Louis, Missouri, AS. Dalam kunjungan itu, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia berkomitmen membeli 24 unit jet tempur F-15EX Eagle II.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman. Pihak AS bahkan telah memberikan kode khusus bagi Indonesia untuk penggunaan F-15EX, yakni F-15IDN.

Sejak saat itu, Aviation Week menulis, tidak ada pergerakan dari Indonesia untuk merealisasikan pembelian secara resmi.

Baca Juga: TNI AD Kebut Renovasi SDN 1 Tualang Cut Aceh Tamiang

Namun, di sisi lain, Boeing lewat Peters menyatakan bahwa proyek penjualan helikopter AH-64 Apache ke Indonesia masih berjalan.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa rencana pengadaan jet tempur F-15EX belum masuk tahap penganggaran.

Rico mengatakan, pemerintah Indonesia telah meminta penawaran sebagai bagian dari perencanaan pembelian jet tempur generasi 4.5 tersebut.

Baca Juga: Pembukaan SAS 2026, Jupiter Aerobatic Team Curi Perhatian lewat Beragam Manuver Udara

“Namun, harga yang diajukan dinilai masih terlalu tinggi sehingga belum dapat ditindaklanjuti,” ujar Rico kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Rabu (4/2).

Rico menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada keputusan pengalihan rencana atau anggaran untuk opsi pesawat tempur lain.

“Seluruh rencana pengadaan alutsista tetap melalui kajian menyeluruh dan keputusan strategis pemerintah,” kata Rico. (nma)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.