Berumur 63 Tahun, Wara Menjadi Wujud Emansipasi Wanita di Dunia Pertahanan

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono menghadiri syukuran HUT ke-63 Wanita Angkatan Udara atau Wara di Mabesau, Jakarta, Rabu (12/8).
Tonny mengatakan, di umur yang ke-63 ini, Wara harus terus mengembangkan kompentensi dan kualitas untuk menjawab tantangan tugas yang semakin kompleks.
“Manfaatkan setiap kesempatan pendidikan dan pelatihan,” pesan Tonny dalam siaran persnya.
Baca Juga: Hanya 8 Bulan, TNI AD Berhasil Membangun 3.232 Titik Air
TNI Angkatan Udara dengan moto AMPUH (adaptif, modern, profesional, unggul dan humanis) saat ini terus menuju ke dalam transformasi yang lebih modern. Apalagi, TNI AU saat ini kedatangan beberapa alutsista berteknologi terbaru.
Untuk itu, semakin kompleksnya ancaman dan operasi udara, Tonny meminta Wara untuk terus belajar, beradaptasi dengan perkembangan digital, dan adaptif.
“Perluas wawasan, selalu isi diri, serta kuasai keterampilan yang relevan agar kalian, para Wara, selalu siap menghadapi dinamika tugas dan perkembangan lingkungan strategis yang terus berkembang,” pesan Tonny.
Kepada para pembina Wara, Tonny meminta agar dilakukan pemetaan potensi personel, baik dari sisi pendidikan formal atau keterampilan yang dibutuhkan organisasi.
Selama 63 tahun, kata Tonny, Wara telah menunjukkan profesionalisme melalui dedikasi, integritas, dan kinerja. Peran tersebut semakin terlihat melalui keterlibatan Wara dalam berbagai misi perdamaian PBB.
Dibentuknya Wara
Perjalanan Wanita Angkatan Udara (Wara) dibentuk pada 12 Agustus 1963 sebagai wujud emansipasi perempuan di dunia pertahanan pada masa perang kemerdekaan yang saat itu bertugas di pangkalan AURI (TNI AU) Yogyakarta dan Bukittinggi sebagai tenaga kesehatan, administrasi, hingga pelipat payung.
Baca Juga: KSAD Resmikan 3.008 Jembatan, Permudah Akses Masyarakat
Laksamana Muda Udara, Suharnoko Harbani, yang melihat kontribusi tersebut meresmikan pembentukan Wara pada 1963. Pendidikan pertama kemudian dilaksanakan di Kaliurang, Yogyakarta, dengan 30 wanita lulusan sarjana dan sarjana muda sebagai angkatan pertama.
Selain mengemban tugas militer, Wara tercatat memiliki sejumlah prestasi di bidang olahraga udara. Tim terjun payung Pink Force tampil di kejuaraan dunia ketepatan mendarat pada tahun 1991. Lalu cabang terbang layang berhasil menyumbangkan emas, perak, dan perunggu di Pekan Olahraga Nasional (PON).
Sementara di bidang teknik, Wara ikut andil dalam melakukan perawatan pesawat di skadron teknisi.
Dengan motto Kanya Bhakti Sakti Sejati, Wara menjadi simbol emansipasi Kartini di dunia militer.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































