Bergabung dengan Inggris dan Spanyol, Kapal Fregat Selandia Baru Singgah di Jakarta

Jakarta, IDM – Angkatan Laut Selandia Baru turut mengirimkan satu kapal perangnya yang tergabung dalam UK Carrier Strike Group (CSG) yaitu HMNZS Te Kaha (F77) ke Jakarta, sejak Minggu (29/6).
HMNZS Te Kaha merupakan salah satu pendamping kapal induk Angkatan Laut Inggris, HMS Prince of Wales dalam UK CSG yang menjalani misi di kawasan Indo-Pasifik, dan berlabuh bersama HMS Richmond (F239) dan ESPS Mendez Nunez (F104) di Jakarta, pekan ini.
Komandan Komponen Maritim Angkatan Laut Selandia Baru, Komodor Shane Arndell mengungkapkan kunjungan persahabatan HMNZS Te Kaha merupakan yang pertama kalinya dilakukan sejak 2017.
Baca Juga: Manfaatkan Lahan Tidur, Yonif 754 Panen Padi Perdana di Mimika
Selama sandar di ibu kota dalam dua hari, 29 Juni-1 Juli 2025, terdapat sejumlah agenda yang mencakup pertemuan dengan para pejabat tinggi TNI AL, salah satunya kunjungan Komandan HMNZS Te Kaha, Fiona Jameson kepada Asisten Komunikasi Elektronika Panglima Komando Armada RI, Laksamana Pertama Farandinanto, Senin (30/6).
Pada hari yang sama, delegasi dari HMNZS Te Kaha juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Komandan Pangkalan TNI AL (Wadanlantamal) III Kolonel Laut (P) Ranu Samiaji di Markas Komando Lantamal III.
"Kunjungan Te Kaha ini mencerminkan pentingnya hubungan pertahanan antara Selandia Baru dan Indonesia. Kami memiliki komitmen bersama terhadap keamanan dan stabilitas maritim regional di Indo-Pasifik dan ini merupakan kesempatan baik untuk melanjutkan dialog dan kerja sama dengan TNI AL," ungkap Arndell, dikutip dari siaran pers Angkatan Bersenjata Selandia Baru, Selasa (2/7).
Selama berada di Jakarta, awak HMNZS Te Kaha juga menjalani sejumlah agenda dengan para prajurit TNI AL, seperti kompetisi olahraga hingga pertukaran pengetahuan mengenai operasi keamanan maritim yang digelar Angkatan Laut Selandia Baru, yakni gugus tugas gabungan (CTF) 150.
"Gugus tugas gabungan 150 adalah operasi keamanan maritim multinasional yang berfokus menindak organisasi teroris dan kriminal, penyelundupan narkotika di Timur Tengah. Selama enam bulan terakhir, kapal-kapal yang tergabung dalam CTF150 telah menyita lebih dari 7.000 kg narkotika senilai NZD1,8 miliar," jelas Arndell.
Baca Juga: Bersenjata Lengkap, Prajurit Yonif 411 “Seruduk” Polres Salatiga, Ada Apa?
Fregat Kelas Anzac
HMNZS Te Kaha adalah kapal perang jenis fregat kelas Anzac yang mulai beroperasi untuk Angkatan Laut Selandia Baru, sejak 22 Juli 1997 silam. Kapal ini bertugas melakukan patroli laut dan operasi pengintaian.
Fregat ini memiliki panjang 118 meter, lebar 15 meter, dan berat penuh 3.600 ton ini mampu menampung 178 awak, berlayar dengan kecepatan 27 knot, dan mencapai jarak jangkau 6.000 mil laut.
Selain itu, HMNZS Te Kaha juga dilengkapi persenjataan yang meliputi meriam 1 x 5 inci/54 (127 mm) Mk 45 Mod 2 gun; sistem pertahanan udara 20 x VLS (vertical launch system) sel untuk rudal Sea Ceptor; terdapat juga torpedo 2 x triple 324 mm Mk 32 Mod 5 tubes; hingga persenjataan lainnya seperti 1 x Phalanx CIWS (close-in weapon system) serta beberapa senapan mesin 12,7 mm. (at)
Hankam

Sehari Setelah Dievakuasi, KSAD Pimpin Langsung Pemakaman Militer Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Tandyo Budi Revita memimpin langsung upacara pemakaman militer Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo di Trenggalek, prajurit TNI AD yang gugur saat menjalankan misi pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































