Benarkah Rekruitmen TNI AD di NTT Bermasalah? Ini Penjelasannya

Jakarta, IDM – Baru-baru ini viral di media sosial aksi protes sejumlah orangtua calon siswa (casis) TNI Angkatan Darat (AD) karena anaknya dinyatakan tidak lulus. Para orangtua tersebut mengaku kecewa lantaran anak mereka dua kali mendapatkan pengumuman, jam 17.00 Wib dinyatakan lulus dan pada pukul 04.00 subuh dinyatakan tidak lulus.
Menanggapi ini, Komandan Korem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Joao Xavier Barreto Nunes buka suara. Dalam keterangannya, Senin (23/6) ia memastikan informasi ini tidak benar.
"Saya tegaskan bahwa proses rekrutmen ini dibuka secara umum dan 100 persen gratis untuk seluruh warga negara Indonesia, khususnya putra Nusa Tenggara Timur (NTT), tanpa ada pungutan biaya apapun. Tidak ada yang kami tutup-tutupi. Semua tahapan seleksi dilakukan secara profesional mulai dari administrasi, kesehatan, hingga tes jasmani. Yang kami cari adalah calon prajurit sejati, yang siap lahir dan batin," kata Joao.
Baca Juga: TNI AL dan Amerika Kerahkan Ratusan Prajurit dalam Latma Carat 2025, Digelar Sepekan
Ia menegaskan bahwa seluruh proses seleksi telah berjalan transparan, objektif, dan sesuai prosedur yang berlaku di lingkungan TNI AD.
"Semua peserta yang ikut seleksi memiliki kesempatan untuk lolos, asalkan mampu melalui tahapan dengan baik dan memenuhi seluruh kriteria. Kami ingin mencetak ksatria, bukan hanya sekedar memenuhi kuota. Yang lulus adalah mereka yang memang layak," tegas Joao.
Pengumuman hanya satu kali
Lebih lanjut Joao menyampaikan bahwa semua calon peserta waktu itu disampaikan untuk membawa perlengkapan pribadi masing-masing ke Korem, dengan tujuan bagi calon yang terpilih untuk mengikuti seleksi di tingkat Subpanpus akan langsung naik kapal menuju Bali.
Baca Juga: Mayjen Edwin Resmi Jabat Danpaspampres, Brigjen Yudha Airlangga Jadi Dankoopssus
"Pengumuman hasil seleksi dilakukan secara langsung dan tepat sebelum keberangkatan untuk menghindari potensi penyimpangan. Kami umumkan hasil hanya di lapangan Makorem. Bagi calon yang lolos, akan langsung naik ke truk menuju ke pelabuhan Tenau kemudian naik kapal menyesesuaikan dengan jadwal keberangkatan kapal, hal Ini juga agar tidak ada permainan atau 'kongkalikong' saat pengumuman," kata Joao.
Ia pun memastikan pengumuman Cata dan Caba hanya dilakukan satu kali saja bukan dua kali, seperti informasi yang beredar di media sosial tersebut.
Ada 10.707 orang yang mendaftar
Joao mengatakan mekanisme rekrutmen prajurit TNI AD pada saat seleksi akhir atau sidang parade Caba berjumlah 1.233 orang yang telah melalui seleksi administrasi, kesehatan, jasmani dan tambahan untuk penelitian data personel.
Baca Juga: Warga di Banten Sukarela Beri Lahan untuk Latihan Militer TNI AD
"Dari 1.233 orang, yang terpilih untuk mengikuti seleksi ke tingkat Subpanpus di Bali sejumlah 273 orang. Untuk calon Tamtama, putra-putra Flobamorata yang terdaftar sebanyak 10.707 orang, dan yang melaksanakan validasi 6.556 orang, setelah itu melaksanakan pemeriksaan administrasi dan kesehatan. Dari jumlah ini kemudian diajukan ke Mabesad," kata Joao.
Dari sini lanjutnya jumlahnya berubah dari jumlah Cata tersebut yang terpilih untuk mengikuti seleksi di Tingkat Subpanpus sebanyak 3.580 orang.
"Saya sampaikan bahwa Calon Bintara yang terpilih 273 orang dan calon Tamtama 3.580 orang itu nanti akan di seleksi lagi bersama rekan-rekannya baik dari Bali maupun dari NTB," tutup Joao. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































