Belajar dari Insiden ATR, Pilot Puspenerbal Pertajam Insting Hadapi Cuaca Buruk

Jakarta, IDM – Wing Udara 2 Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) tak ingin ambil risiko soal keselamatan penerbangan. Belajar dari tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500, para pilot TNI AL kini mempertajam insting mereka dalam menghadapi situasi kritis, terutama saat cuaca buruk mengadang.
Hal ini menjadi bahasan utama dalam safety meeting yang digelar di Skuadron Udara 200, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (23/1). Ratusan perwira penerbang dan perwira teknik dari seluruh jajaran Wing Udara 2 Puspenerbal hadir untuk menyamakan persepsi.
Fokus diskusi kali ini adalah membedah kasus kecelakaan pesawat ATR yang menelan 11 korban jiwa. Wing Udara 2 Puspenerbal menjadikan insiden ini sebagai pelajaran mahal agar tidak terjadi di lingkungan TNI AL.
Baca Juga: Siswa Penerbang TNI AU Diproyeksikan Bisa Ikut Pendidikan Lanjutan di Institusi Penerbangan Sipil
Kapten Laut (P/W) Nadia dari Skuadron Udara 200 menekankan pentingnya situational awareness, yakni kemampuan pilot untuk peka membaca situasi sekitar secara berkala, terlebih saat cuaca berubah ekstrem secara tiba-tiba.
"Pilot harus punya kepekaan tinggi. Sedikit saja lengah membaca kondisi alam, akibatnya bisa fatal bagi seluruh kru dan pesawat," ujar Nadia, sebagai pemateri dalam paparan tersebut, dikutip dari keterangan Dispen Puspenerbal, Minggu (25/1).

Tak hanya soal insting, kemampuan teknis juga menjadi sorotan. Lettu Laut (P) Gesit memaparkan materi soal Instrument Flight Rules (IFR), yaitu teknik navigasi di mana pilot terbang sepenuhnya mengandalkan instrumen di kokpit, bukan penglihatan mata keluar, yang sangat krusial saat pesawat terjebak awan tebal atau hujan deras.
Baca Juga: Antisipasi Hujan Ekstrem Jakarta, TNI AU Kerahkan Pesawat Casa NC-212 untuk Modifikasi Cuaca
Diskusi berjalan interaktif. Para komandan dari skuadron udara 200, 400, dan 800 turut membagikan pengalaman menegangkan yang pernah mereka alami selama bertugas. Kolaborasi ilmu teknis dari penerbang muda dan jam terbang tinggi dari para senior ini bertujuan membangun mental kru yang siap hadapi segala kondisi.
Komandan Wing Udara 2 Puspenerbal Letkol Laut (P) Oscar Johanes Novie, memberikan pesan tegas di akhir pertemuan. Ia mengingatkan, keselamatan terbang dan kerja bukanlah pilihan, melainkan harga mati.
"Disiplin mematuhi prosedur dan penguasaan alat adalah kunci. Kita semua harus punya semangat yang sama, menjalankan misi operasi dengan prinsip tanpa kecelakaan (zero accident)," tegas Oscar. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































