HANKAM

Api Karhutla Bisa Muncul Lagi dari Gambut, BNPB Perkuat Pemadaman Darat di Kalteng dan Sumsel

BNPB
BNPB perkuat pemadaman darat di Kalteng dan Sumsel. (IDM/Yakub Pryatama)

Jakarta, IDM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan masih menjadi tantangan utama dalam upaya penanggulangan kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai pemadaman via darat diutamakan guna mengatasi kebakaran, terutama di lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Pandjaitan mengungkapkan berdasarkan kondisi per 13 Oktober 2026, kedua provinsi tersebut masih mengalami kebakaran berat.

Sebaliknya, kondisi di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jambi relatif membaik.

Baca Juga: BNPB Bantah Ada Penggeledahan KPK Hari Ini, Akui Sejumlah Ruangan Disegel

“Per 13 Oktober, penanganan karhutla kami fokus pada Kalimantan Tengah maupun Sumatra Selatan, di mana kondisi karhutla di dua provinsi ini masih mengalami kebakaran berat,” kata Berton di Kemenko Polkam, Jakarta, Rabu (14/10).

Berton menjelaskan karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih mendalam.

Api yang terlihat di permukaan dapat saja sudah padam, tetapi sumber panas di bawah tanah masih bertahan dan berpotensi memicu kebakaran kembali.

Kondisi ini menjadi alasan BNPB memprioritaskan operasi darat untuk menjangkau sumber api sekaligus melakukan pendinginan secara menyeluruh.

Operasi udara tetap digunakan sebagai bagian dari strategi penanggulangan, tetapi efektivitasnya memiliki keterbatasan ketika api telah merambat ke lapisan gambut.

“Operasi udara bisa memadamkan seketika tetapi tidak sampai ke dalam gambut. Jadi memang yang lebih efektif itu dari operasi darat,” ujar Berton.

Baca Juga: Menko Polkam Dudung Terima Dubes Arab Saudi, Perkuat Kemitraan Strategis di Bidang Keamanan

Dalam pelaksanaannya, satgas darat terus melakukan pemadaman, penyekatan agar api tidak meluas, pendinginan lokasi terdampak, dan pemantauan untuk mendeteksi potensi kebakaran susulan.

Di sisi lain, satgas udara menjalankan pemantauan titik panas, verifikasi kondisi di lapangan, serta operasi modifikasi cuaca (OMC).

Upaya mendatangkan hujan melalui OMC dilakukan dengan memperhatikan ketersediaan awan yang memungkinkan penyemaian.

BNPB juga mengandalkan koordinasi lintas sektor dengan melibatkan TNI, Polri, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, LSM, hingga masyarakat.

Keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar penanganan kebakaran tidak hanya berorientasi pada pemadaman, tetapi juga mencakup pencegahan dan pemantauan setelah api berhasil dikendalikan.

Menurut Berton, indikator keberhasilan penanganan karhutla dapat dilihat dari menyusutnya luas lahan yang masih terbakar serta membaiknya kualitas udara.

Baca Juga: Menko Polkam Dudung Terima Dubes Arab Saudi, Perkuat Kemitraan Strategis di Bidang Keamanan

Namun, kedua indikator ini perlu diikuti dengan pengawasan terhadap titik-titik yang sebelumnya terbakar.

“Namun perlu kita ketahui bahwa satu-satunya jalan untuk menyelesaikan ini adalah hujan yang kontinuitasnya tinggi,” katanya.

Ia menegaskan hujan yang turun secara berkelanjutan diharapkan dapat membantu proses pemadaman dan mengurangi risiko munculnya kembali titik api. Sebab, bara yang tertinggal di bawah permukaan gambut dapat kembali menyala meskipun kobaran di atas tanah telah berhasil dipadamkan.

“Kita sudah padamkan di permukaan, tapi di bawah belum. Dua hari kemudian ini muncul lagi,” pungkas Berton.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.