Antisipasi Fatalitas, Marinir Sisir Riwayat Kronis Siswa Latsarmil Koperasi Desa dan Kampung Nelayan

Jakarta, IDM – Korps Marinir memperketat pengawasan medis secara drastis dalam latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan dan Kampung Nelayan Merah Putih di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta. Langkah preventif ini merespons langsung insiden fatal yang merenggut nyawa tiga peserta di satuan pendidikan lain baru-baru ini.
Komandan Batalion Latihan (Danyonlat) Latsarmil Brigif 1 Marinir Letkol (Mar) Agus Mutaqin, menegaskan jajarannya langsung mengambil tindakan taktis begitu mendengar berita duka tersebut. Tim dokter militer di lapangan kini menyisir ulang rekam medis seluruh peserta sipil demi memitigasi risiko di area latihan.
Penyisiran Riwayat Kronis dan Antisipasi Lapangan
Manajemen kepelatihan menaruh perhatian khusus pada potensi penyakit dalam yang tersembunyi. Petugas kesehatan di lapangan memeriksa tekanan darah secara ketat serta mendalami riwayat kesehatan peserta melalui wawancara personal dan mencocokkannya dengan surat dokter terakhir.
Baca Juga: Lulus Seskoau A-64, Puluhan Perwira Disiapkan jadi Calon Pemimpin TNI AU yang Adaptif
Upaya penyaringan ulang ini berhasil memetakan sejumlah penyakit kronis bawaan pada beberapa peserta, mulai dari asma, hipertensi, pascapatah tulang, hingga riwayat tuberkulosis (TBC). Untuk memastikan keselamatan, Marinir langsung memisahkan para siswa yang memiliki riwayat sakit berat tersebut agar tidak mengikuti kegiatan fisik.
"Sebagai penanganan dan pencegahan kami, yang pertama saat masuk, kami cek kesehatan mereka, tensi, dan kondisi fisik. Kemudian setelah kita rekap, data-data yang memiliki riwayat kronis atau sakit berat kita pisahkan sampai dengan tingkat Peleton dan Kompi. Supaya kegiatan-kegiatan di lapangan yang berkaitan dengan fisik tidak kita ikutkan," ujar Agus di sela-sela peninjauan latihan dasar militer di Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6).
Prosedur Evakuasi dan Penyiapan Fasilitas Medis
Selain pengetatan penapisan kesehatan di awal registrasi, Korps Marinir menerapkan standardisasi prosedur operasi penanganan medis secara berjenjang. Unit ambulans beserta tenaga kesehatan bersiaga penuh selama 24 jam dan melekat di setiap lokasi latihan guna mendukung percepatan penanganan kegawatdaruratan.
Baca Juga: Sinergi TNI AD dan Kementerian ESDM Lumpuhkan Sindikat Kakap Tambang Ilegal, 25 Orang jadi Tersangka
Agus merinci alur penanganan medis komprehensif yang berlaku di Brigif 1 Marinir, Cilandak saat ini untuk mengamankan kondisi siswa.
"Di sini juga setiap saat menempel ambulans dan tenaga kesehatan sehingga langsung ditangani. Apabila dari Peleton Kesehatan atau dokter kami tidak mampu menangani, sudah disiapkan rumah sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit Marinir Cilandak yang akan segera melakukan penanganan, rawat inap, dan sebagainya," kata Agus.
Respons atas Tiga Insiden Fatal Sebelumnya
Langkah mitigasi berlapis di Brigif 1 Marinir, Cilandak, bergulir menyusul wafatnya tiga peserta program pelatihan bentukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) di lokasi berbeda. Korban pertama, Anisa Muyassaroh, meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, akibat paparan cuaca panas berlebih atau sengatan panas (heat stroke) pada pertengahan Juni.
Kasus kedua menimpa Yonanda Muhammad Taufiq di Satuan Pendidikan Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatra Selatan, yang mengembusen napas terakhir akibat henti jantung (cardiac arrest). Sementara itu, korban ketiga atas nama Novia Rahmadhani Sihotang meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta karena dugaan penyakit tuberkulosis.
Baca Juga: Dikritik Netizen, Marinir Buka Suara Soal Latsarmil Manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan
Evaluasi Kurikulum dan Karakter Strategis
Gugurnya ketiga peserta sipil tersebut memicu gelombang kritik dari parlemen dan organisasi masyarakat sipil terkait relevansi materi militeristik bagi warga sipil. Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin, mendesak Kemhan mengevaluasi porsi latihan fisik seperti menembak dan berbaris di bawah terik matahari, karena pembekalan tata kelola manajemen koperasi jauh lebih krusial.
Merespons polemik seputar relevansi kurikulum tersebut, Agus meluruskan latihan dasar militer ini murni bertujuan membangun fondasi karakter dasar, bukan mencetak prajurit tempur.
"Melihat polemik di luar, Latsarmil ini adalah bekal untuk membentuk karakter dari para siswa. Karakter itulah yang harus kita bangun. Salah satunya kedisiplinan… Jadi setelah latsarmil ini, nanti dilanjutkan materi dari Dinas Pertanian atau dari Kementerian Koperasi yang akan mengakomodir selama dua minggu. Ada materi manajerial yang akan diberikan oleh narasumber sipil," tutur Agus.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































